BAB I.
PENGANTAR
Dari
Dustur Ilahi
ß`øtªU Èà)tR y7øn=tã Nèdr't7tR Èd,ysø9$$Î/ 4 öNåk¨XÎ) îpu÷FÏù (#qãZtB#uä óOÎgÎn/tÎ/ óOßg»tR÷Îur Wèd ÇÊÌÈ $oYôÜt/uur 4n?tã óOÎgÎ/qè=è% øÎ) (#qãB$s% (#qä9$s)sù $uZ/u >u ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur `s9 (#uqããô¯R `ÏB ÿ¾ÏmÏRrß $Yg»s9Î) ( ôs)©9 !$oYù=è% #]Î) $¸ÜsÜx© ÇÊÍÈ
“Kami ceritakan kisah kepadamu dengan sebenarnya.
Sesungguhnya mereka itu adalah
pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, maka kami tambahkan kepada
mereka petunjuk. Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri
dan berkata ‘Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak
menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan
perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.
Kita
menyadari sepenuhnya bahwa satu-satunya sumber kekuatan adalah Allah Rabbul
Jalil, yang tiada daya dan upaya kecuali atas ijin-Nya. Adapun jama’ah dakwah
adalah lembaga ibadah untuk mendekatkan diri pada sumber kekuatan itu. Dengan
demikian, jama’ah akan berfungsi sebagai media yang menampung kekuatan Ilahi (markazul quwwah). Di atas kekuatan
jama’ah inilah tanggung jawab menegakkan masyarakat Islam dibebankan sesuai
dengan minhaj asasi kita, Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
Kekuatan
utama gerakan dakwah adalah para kader dakwah yang memiliki komitmen terhadap
‘amal jama’i. Mereka adalah basis operasional (qaidah harakiyyah) seluruh aktivitas gerakan. Tetapi kekuatan itu
tidak ada artinya tanpa dukungan masyarakat. Umat Islam adalah power base (pangkalan kekuatan) bagi
harakah Islamiyah. Tanpa landasan ini maka kekuatan da’wah menjadi kurang
efektif.
Di
dalam masyarakat kita, pemuda dan pemudi Islam merupakan unsur perubah (anashirut-taghyiir) yang utama. Mereka
memiliki potensi yang besar untuk membuat perubahan sosial yang dikehendaki
gerakan dakwah.
Da’wah
Islamiyah merupakan da’wah syamilah yang meliputi seluruh aktifitas kehidupan
masyarakat yang beraneka ragam. Untuk itu diperlukan berbagai potensi masyarakat
Islam yang syumul, meliputi bidang-bidang kehidupan yang menyeluruh. Dalam hal
ini penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan langkah strategis yang
sama sekali tidak boleh diabaikan. Ia merupakan salah satu kekuatan dari dua
kekuatan yang dikaruniakan Allah SWT, yakni Al
Quwwah Al Kauniyah disamping Al
Quwwah Al Qauliyah.
Pelajar
sebagai salah satu elemen komunitas pemuda mempunyai berbagai karakteristik
yang menonjol. Sifat-sifat itu antara lain dinamis, kreatif, agresif, spontan,
heroik, enerjik, militan, rasa ingin tahu, mudah meniru, tingkat emosi yang
labil dan umumnya belum memiliki kematangan jiwa yang mantap.
Segala
kelebihan dan kekurangan yang melekat pada pelajar tersebut merupakan potensi
bagi gerakan da’wah untuk merekrut para pelajar bergabung dalam proyek besar
penegakan nilai-nilai Islamiyah.
1. Persebaran sekolah yang merata ke seluruh wilayah. Untuk
tingkat Sekolah Menengah Atas, hampir tiap kecamatan terdapat satu SMU Negeri.
2. Jumlah pelajar yang relatif banyak dan mengalami
penambahan tiap tahun.
3. Intensitas interaksi antar siswa yang sangat tinggi,
selama enam jam sehari dan enam hari dalam sepekan.
4. Suasana sekolah yang relatif kondusif bagi penyebaran dan
pengembangan dakwah. Misalnya : suasana siswa di sekolah yang seragam (usia,
tingkat kecerdasan, pakaian, jam belajar, beban akademis, tugas-tugas, dst)
Untuk mengoptimalkan pembinaan pelajar Kami persembahkan
kepada kader dakwah sekolah sekalian Risalah Pembinaan da’wah sekolah
Tentu saja dalam penyusunan yang pertama ini akan
dijumpai banyak kelemahan dan kekurangan oleh karenanya kami meminta kritikan
dan saran yang membangun tentunya
Akhirnya, Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa
ni’mal nashiir
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam Ukhuwah Selalu
Tim Penyusun Panduan Kegiatan Mentoring
MAISMANDA
BAB II. UNTUK PARA MENTOR
MEMAHAMI SOSOK, TUGAS DAN BEKAL SEORANG DA’I
Sosok da’i bukanlah orang sembarangan yang bisa diorbit
sebagaimana bisa mengorbitkan sarjana akademis. Da’i adalah sosok manusia yang
memiliki seperangkat hiasan pribadi yang spesifik, memiliki shibghoh Islami
dalam segala aspeknya. Berikut ini kita akan paparkan seputar
perangkat-perangkat da’i sebagai sosok manusia yang spesifik.
1. KRITERIA RUHIYAH
Kekuatan ruh merupakan prinsip dalam kepribadian seorang
da’i yang tanpa kekuatan ini seorang da’i ibarat jasad tanpa ruh, begitu pula
pada umumnya manusia.
Kekuatan ruh lahir dari aktivitas ruhiyah yang dilakukan
oleh seseorang. Sentral aktivitas ruhiyah adalah ibadah ilallah. Dengan ibadah
ruh menjadi kuat, hati terkendali, hati tertundukkan dan praktis tergiring
untuk menyerah dalam pangkuan Islam secara kaffah. Adapun
aktivitas ruhiyah pemacu ruh da’i adalah :
1.
Beribadah dengan benar, faham apa
yang dibaca, dan merasakan bahwa dirinya sedang bermunajat dan bermuwajahah
dengan Rabbnya.
2.
Memelihara sholat-sholat wajib
dan sunnat.
3.
Memelihara keaktifan sholat
jama’ah terutama sholat fajr, (QS 17:78)
4.
Mendawamkan sholat malam beberapa
rakaat semaksimal mungkin.
5. Menjaga amal-amal ibadah yang sunnat.
6. Tilawatil Qur’an dengan tadabbur, tafahum, secara
kontinu.
7. Menjaga wirid-wirid dan dzikir-dzikir ma’surat.
8. Senantiasa merendahkan diri (tawadhu’, khudhu’) kepada
Allah dengan berdo’a. Karena do’a intinya ibadah.
Inilah keharusan bekal yang harus dimiliki sosok seorang da’i. Keberhasilan
dalam mengarungi samudra da’wah akan ditentukan oleh bekal ruhiyah ini. Bekal
ini ibaratkan bahan bakar bagi mesin. Laksana pondasi bagi suatu bangunan , bak
akar bagi tegaknya pohon.
2. KRITERIA SULUK (AKHLAQ)
Pada prinsipnya apa yang Allah syari’atkan bertujuan untuk melahirkan
prilaku (akhlaq) pribadi dan sosial. Hal ini sesuai dengan misi utama kerasulan
Muhammad saw. Sebagai penyempurna akhlaq dan menjadi rahmat untuk semesta alam.
Oleh sebab itu suluk, amalan dan pola hidup seorang da’i harus sesuai dengan
syari’at dan perintah Allah SWT .
Adapun keharusan yang mesti diwujudkan dan harus menjadi
kepribadian seorang da’i adalah sebagai berikut :
1. Beradab dan berakhlaq Islami, meliputi:
a. Rendah hati (iffah ) dan mendahulukan kepentingan orang
lain .
Seorang da’i harus bisa bersikap rendah hati dalam segala hal agar dapat
dihargai oleh orang lain, mampu menyampaikan yang harus disampaikan. da’i juga
harus bisa mendahulukan kepentingan umum daripada dirinya sendiri.
b. Bersikap toleransi dan berwawasan luas.
Da’i dituntut untuk memiliki sifat ini, suka memaafkan dan mengutamakan
cinta kasih diantara manusia, tidak egois dan mau menang sendiri. Da’i juga
harus memiliki jangkauan kedepan, tajam analisa tentang sasaran dan tujuan
hingga mampu menyingkirkan kendala penghalang, (QS 33:48)
c. Seorang da’i harus memiliki sikap benar, berani, rela
berkorban, satria, zuhud, penyayang dan muamalah yang baik. Akhlaq ini semua
akan mampu membuka hati manusia apabila dilaksanakan oleh para da’i.
2.
Menjauhi hal-hal yang haram..
Dengan
menjauhi hal-hal yang haram akan memancarkan nur Rabbani di dalam hatinya serta
akan terlepas dari hawa nafsu, (QS 83:14 ). Orang yang tidak bisa mewujudkan
hal tersebut tidak berhak berdiri di shof da’i.
3.
Qudwah (contoh amaliyah nyata ).
Semaksimal
mungkin da’i harus mampu menjadikan dirinya sebagai gambar hidup dari apa yang
di da’wahkan (Al-Qur’an) sebab da’wah billah lebih kuat pengaruhnya dibanding
da’wah dengan konsep.
4.
Siap berkorban.
Seorang da’i
berfungsi sebagai sopir manusia. Ia harus tampil pertama dalam segala hal
sebagi tauladan, dalam berkorban, berkorban waktu, harta untuk tegaknya
kebenaran. Begitu pula berkorban untuk mencegah segala kemungkinan yang akan
menyebabkan kemungkinan-kemungkinan negatif dalam Islam.
5.
Bertanggung jawab.
Seorang da’i
harus berfikir tentang kewajiban dan ruang lingkup tanggung jawabnya sehingga
mampu membimbing ummat kepada amaliah Islamiyah.
3.
KRITERIA PEMIKIRAN
Pemikiran
seorang da’i adalah hal yang daruri, mutlak dituntut. Bagaimana tidak, seorang
da’i sebagai transformer Islam kepada mad’unya. seorang da’i yang tidak
memiliki pemikiran atau hujjah yang kuat serta penalaran yang memadai tidak
mungkin dapat diterima oleh mad’unya. Lebih dari itu Islam sebagai bahan yang
dida’wahkan sedangkan Islam sendiri itu adalah aqo’id, dan pemikiran,
prinsip-prinsip serta hukum yang semuanya itu menuntut kemampuan seorang da’i
di dalam mengemukakan nalar dan hujjahnya secara tepat dan mantap. Mampu
menjelaskan bahwa Islan itu adalah dien yang benar dan sempurna pembawa rahmat
dan kedamaian dunia akhirat. Maka untuk itu da’i harus memperhatikan hal-hal
berikut ini:
¨ Kejelasan
konsep/fikroh da’wah yang diserukan.
Da’i
dituntut agar fikroh dan da’wahnya benar-benar mantap dan jelas baik yang
bersangkutan dengan ruhiyah, akhlaq, sosial, ekonomi, politik. Terlebih-lebih
hal-hal ynag bersifat mendasar seperti masalah aqo’id dan hal semacamnya. Da’i
harus berusaha untuk menguasainya. Jika tidak maka maka da’i tidak mampu
membawa ummat kepada saasaran yang dikehendaki da’wah itu sendiri.
¨ Faham
dan menguasai misi dan fikroh yang dibawanya.
Tidak
boleh tidak bahwa seorang da’i harus memiliki pemahaman plus dari mad’unya,
oleh karena itu ia dituntut bisa menguasai pemahaman ‘ulumuddin yang cukup
dalam berbagai seginya.
Perkaranya
bagaimana mungkin orang yang tidak mempunyai sesuatu, bisa memberikan sesuatu.
Orang
jahil bisa mengajarkan ilmu, orang yang tidak faham memahamkan orang lain,
suatu hal yang mustahil secara logika.
¨ Mempunyai
wawasan Islam yang luas.
Lebih jauh dari yang
dijelaskan di atas seorang da’i tidak cukup hanya dengan faham atau menguasai
saja. Ia dituntut memiliki wawasan ilmiyah Islamiyah yang luas (tsaqofah
Islamiyah). Mengetahui berbagai perisrtiwa dan kejadian penting, pasang
surutnya pergolakan sosial, politik dalam dan luar negeri, berbagai ketimpangan
atau macam macam aliran yang berkembang. Hal itu semuanya bisa diketahui
tentang latar belakang atau sebab musababnya. Berangkat dari sini maka untuk
da’i masa kini sangat perlu sekali mempelajari hal-hal sebagai berikut :
1.
Problematika Kaum Muslim
Untuk
mengetahui tentang krisis geografi, ekonomi, politik, penyebaran penduduk,
sebab-sebab keterbelakangan dan perpecahannya serta berbagai macam problemanya.
2.
Kekuatan musuh yang menentang,
khususnya adalah kekuatan Yahudi internasional, komunis, dan Salib
internasional.
3.
Adanya agama-agama yang sezaman
dengan Yahudi, Masehi dan Budha.
4.
Adanya berbagai jenis anutan
politik seperti komunis, materialis, kapitalis, demokrasi dan diktator yang
berbeda konsep dan pelaksanaannya.
5.
Munculnya gerakan gerakan yang
bersifat lokal maupun internasional yang berbau politik, baik yang secara
parsial maupun integral, hal ini dipelajari di dunia Islam.
6. Krisis pemikiran yang fundamental. Yakni bercokolnya
sekulerisme di dunia Islam semacam liberalisme dan nasionalisme.
7. Fikroh-fikroh yang saling bertikai dan berpecah belah.
Seperti yang paling santer adalah Al Bahaiyah dan Al Qodiyaniyah.
8.
Kenyataan lingkungan sekitar
(sosiologi).
Da’i
dituntut untuk mengenal dan mempelajari alam dan lingkungan sekitarnya dimana
ia tinggal atau berda’wah. Mengenal adat istiadat, sosial ekonomi, mata
pencaharian, budaya dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan untuk bisa
menyampaikan da’wah sesuai dengan kondisi masyarakatnya.
4.
KONTINUITAS DALAM BELAJAR
Kriteria
in sangat penting sekali bagi seorang da’i. Tanpa belajar yang kontinyu ia akan
terlindas zaman yang ia tapaki, akan ketinggalan kereta dalam informasi dan
pengetahuan. Maka idealnya seorang da’i mempunyai perpustakaan pribadi di
rumahnya, tekun membaca dan menelaah kitab yang baru atau lama. Tekun mencari
berbagai informasi dan pengetahuan baru. Dengan usaha seperti ini maka da’I
akan mampu berda’wah dengan materi yang aktual dan up to date. Mampu membawa
misi risalah dengan tepat dan dapat diterima, logis dan luwes.
Referensi
: Abu I’dad, Agenda Da’wah: Langkah-langkah Da’wah Manhaji.
BAB .
III TINJAUAN PSIKOLOGIS REMAJA
3.1. Landasan Perlunya
Tinjauan Psikologis
A.
Landasan Syar’i
Al Qur’an dan As Sunah memberikan banyak pelajaran kepada
para da’i untuk melakukan dakwah dengan metode yang tepat. Beberapa ayat dan
hadits itu antara lain :
$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 (
öqs9ur |MYä. $àsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym (
ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó$#ur öNçlm; öNèdöÍr$x©ur Îû ÍöDF{$# (
#sÎ*sù |MøBztã ö@©.uqtGsù n?tã «!$# 4
¨bÎ) ©!$# =Ïtä tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah
Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal
kepada-Nya.
(Q.S. Ali Imran :
159)
! “Kami tidak mengutus seorang
Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan
dengan terang kepada mereka,…” (Q.S. Ibrahim : 4)
! Rasulullah SAW bersabda : “ Tempatkanlah
(bersikaplah kepada) manusia sesuai dengan posisinya masing-masing.”
B. Landasan Pemikiran
Tak dapat dipungkiri, objek tarbiyah
dakwah sekolah sangat khas dan unik.
Mereka adalah remaja yang berusia belasan tahun, bersemangat tinggi,
penuh gejolak, memendam segudang potensi yang menanti untuk dikembangkan,
sekaligus menyimpan sekian problematika yang menuntut untuk diselesaikan dengan
cara bijak.
Remaja, karena keterikatannya dengan
kelompok teman sebaya sangat kuat, membuat mereka mengembangkan pola interaksi
sosial dan komunikasi yang sangat khas.
Dalam kelompoknya mereka seringkali menciptakan nilai dan norma yang
ditaati bersama, bahasa “unik” yang dipakai bersama, bahkan cara berpakaian
yang sama pula. Seringkali mereka
melakukan hal tersebut hanya untuk menunjukkan bahwa mereka bukan lagi anak
kecil yang menurut dengan aturan main yang dibuat orang dewasa, sekaligus
menunjukkan bahwa mereka diterima oleh lingkungan teman sebaya - sederhana,
tapi rumit. Karena itu, dibutuhkan
pemahaman dan metode pendekatan yang tepat untuk berhadapan dengan Objek
Tarbiyah Dakwah Sekolah ini.
3.2. Definisi Remaja
Secara psikologis, masa remaja adalah usia di mana
individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi
merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan
yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
Mengenai
umur masa remaja, para psikolog tidak bersepakat. Namun yang umum digunakan adalah pendapat Luella Cole, yaitu 13 – 15 th (masa
remaja awal); 15 – 18 th (masa remaja pertengahan); 18 – 21 th (masa remaja
akhir).
3.3. Ciri Masa Remaja
Ciri masa remaja menurut
psikologi modern :
1.
Masa remaja sebagai periode yang
penting. Perkembangan fisik dan mental
yang penting bagi perkembangan selanjutnya serta sangat cepat tentu memerlukan
penyesuaian sehingga terbentuk sikap,
nilai dan minat baru.
2.
Masa remaja sebagai periode peralihan. Pada masa ini remaja bukan lagi seorang anak
tapi juga belum dewasa. Jika ia
berperilaku seperti anak-anak ia akan ditegur dan diajari bertindak sesuai
usianya, namun jika ia berperilaku seperti orang dewasa seringkali dimarahi
pula.
3. Masa remaja sebagai periode perubahan.
Tingkat perubahan sikap dan perilaku selama masa remaja seiring dengan
perubahan fisiknya. Perubahan yang terjadi antara lain :
a. Meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan
fisik dan psikologis yang terjadi.
b. Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial
padanya sehingga timbul masalah baru.
Remaja akan tetap merasa bermasalah sampai ia sendiri menyelesaikannya
menurut kepuasannya.
c. Perubahan nilai akibat perubahan minat dan perilaku
d.
Sebagian besar remaja
bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan.
Mereka
menginginkan kebebasan tapi takut bertanggungjawab.
4.
Masa remaja sebagai usia
bermasalah. Masalah masa remaja
sering jadi masalah yang sulit diatasi, karena :
a.
sepanjang masa anak-anak, masalahnya sebagian
besar diselesaikan oleh orang tua, guru dll sehingga mereka tidak berpengalaman
b.
remaja merasa dirinya mandiri sehingga ingin
mengatasi masalahnya sendiri (menolak bantuan orang tua, walau sebenarnya
butuh).
5. Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Bagi remaja penyesuaian diri dengan standar
kelompok sangat penting, tapi lambat laun mereka mulai mendambakan identitas
diri, tidak puas dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal. Identitas diri yang
dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam
masyarakat, dll. Secara keseluruhan
apakah ia akan berhasil atau akan gagal.
Dalam usaha mencari identitas diri ini, remaja melakukan proses imitasi (meniru) dan identifikasi (dorongan untuk menjadi
sama dengan idolanya).
6. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik. Remaja cenderung memandang kehidupan dengan
kaca berwarna merah jambu. Ia melihat
dirinya dan sekitarnya sebagaimana yang ia inginkan, bukan sebagaimana adanya,
terutama dalam cita-cita, sehingga ia menjadi terlalu idealis dan
berlebihan. Semakin tidak realistik
cita-citanya semakin ia mudah kecewa.
Remaja akan sakit hati dan kecewa bila orang lain mengecewakannya atau
bila ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri.
7. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
Menjelang akhir masa remaja, biasanya mereka mulai berusaha meninggalkan
stereotip belasan tahun, dan memberikan kesan bahwa mereka sudah dewasa. Berpakaian seperti orang dewasa, merokok,
berperilaku seperti orang dewasa dan seterusnya, mereka menganggap perilaku ini
memberikan citra bahwa mereka telah dewasa.
3.4. Keadaan
Emosi Masa Remaja
Di
masa remaja, terjadi ketegangan emosi yang meninggi sebagai akibat perubahan
fisik dan kelenjar, serta perubahan perlakuan sosial terhadap dirinya. Reaksi emosi yang seringkali muncul adalah
amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, kesal, rasa
tertekan, mudah tersinggung dan kasih sayang.
Perlakuan sebagai “anak kecil” atau secara “tidak adil” akan membuat
remaja sangat marah dibandingkan stimulus yang lain. Remaja mengungkapkan amarahnya dengan
menggerutu, tidak mau bicara atau dengan suara keras mengkritik orang yang
membuat marah. Remaja mudah iri hati pada orang yang mempunyai benda lebih
banyak.
Kematangan
emosi dicapai pada masa akhir remaja
(18-21 th) ditunjukkan dengan kemampuan mengendalikan emosi. Untuk mencapai
kematangan emosi dia harus menggunakan katarsis emosi (misal latihan fisik yang
berat, bermain, bekerja, menangis) serta membicarakan masalahnya kepada orang
yang ia percaya dan mau menerimanya.
3.5. Perubahan Perilaku Sosial Masa Remaja
Dalam perilaku sosialnya, remaja cenderung
melakukan 2 gerak, yaitu :
1.
Memisahkan diri dari
orang tuanya dengan maksud untuk menemukan dirinya. (proses mencari
identitas ego –Erickson).
2.
Makin akrab dengan teman-teman sebaya. Remaja memperoleh banyak informasi dan nilai
melalui sekolah dan kontak dengan teman-teman sebaya dari keluarga dan
lingkungan yang berlainan, dimana mereka menemukan nilai-nilai yang menarik dan
ingin memilikinya. Pengaruh teman sebaya
ini sangat kuat. Akibatnya, mereka akan
mengikatkan diri dengan aturan-aturan kelompok agar dapat diterima. Dalam kelompok ini remaja merasa menemukan
dukungan, kebebasan dari aturan yang dibuat orang dewasa, penerimaan dan saling
ketergantungan. Namun, seiring dengan
bertambahnya usia, remaja akan mulai mengurangi ketergantungannya dengan
kelompoknya dan akan mencari identitas pribadi, serta lebih senang menjalin
persahabatan pribadi yang erat dengan sedikit orang.
Perubahan
perilaku sosial yang juga menonjol di masa remaja adalah mulai tertariknya
remaja untuk menjalin hubungan heteroseksual.
Saat remaja mereka lebih tertarik untuk menjalin hubungan persahabatan
dengan lawan jenisnya. Ini mencapai
puncaknya selama masa sekolah menengah atas.
Remaja
sebagai kelompok mempunyai kecenderungan memilih-milih teman baik., berdasarkan
minat dan nilai yang sama, dapat mengerti dan membuatnya merasa aman dan
kepadanya dapat dipercayakan masalahnya dan membahas hal-hal yang tidak dapat
dibicarakan dengan orang tua atau guru. Bertambah dan berkurangnya prasangka
dan diskriminasi selama masa remaja akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan,
sikap dan prilaku teman dekatnya.
Pengelompokan sosial remaja:
1. Teman dekat, remaja memiliki dua atau tiga sahabat karib, mereka sesama
seks, mempunyai minat dan kemamuan sama dan saling mempengaruhi satu sama lain,
walau kadang bertengkar.
2. Kelompok kecil, terdiri dari kelompok teman dekat, awalnya terdiri dari
seks yang sama tapi kemudian meliputi kedua jenis seks.
3. Kelompok besar (klik), terdiri dari beberapa kelompok kecil dan kelompok
teman dekat, berkembang dengan meningkatnya minat akan kegiatan bersama (pesta,
berkemah, dll).
4. Kelompok yang terorganisasi, dibina oleh orang dewasa dan dibentuk oleh
sekolah atau organisasi masyarakat untuk remaja yang tidak mempunyai klik. Banyak remaja yang mengikuti kelompok ini
akan merasa diatur dan berkurang minatnya ketika berusia 16 atau 17 tahun.
5. Kelompok Geng, remaja yang tidak masuk klik dan merasa tidak puas dengan
kelompok yang terorganisasi mungkin mengikuti kelompok geng. Biasanya terdiri
dari anak-anak sejenis dan minat utamanya untuk menghadapi penolakan
teman-teman melalui perilaku anti sosial.
Pengaruh geng cenderung meningkat selama masa remaja.
6.
Pengelompokan
sosial remaja laki-laki biasanya lebih besar dan tidak terlampau akrab
dibanding dengan remaja perempuan yang lebih kecil dan terumus rapi.
Dalam memilih pemimpin atau panutan, remaja
memiliki beberapa kriteria antara lain:
1. Bersemangat/bergairah melakukan sesuatu
2. Berpenampilan rapi dan menarik
3.
Cerdas,
prestasi akademik baik dan tingkat kematangan emosional di atas rata-rata.
4.
Umumnya
pemimpin para remaja berasal dari keluarga berstatus sosial ekonomi relatif
tinggi
5. Aktif berpartisipasi dalam kehidupan sosial
6. Bertanggung jawab, ekstrovert, kreatif, penyesuaian
diri baik, dll.
3.6. Minat Remaja
! Minat Rekreasi Remaja
Selama masa remaja, remaja cenderung menghentikan
aktivitas rekreasi yang banyak menuntut pengorbanan tenaga. Karena banyaknya tekanan dari tugas sekolah,
tugas rumah, kegiatan ekskul dll, sebagian besar remaja tidak punya banyak
waktu lagi untuk rekreasi. Karenanya
mereka memilih jenis-jenis kegiatan yang paling mereka kuasai atau paling
disukai. Minat rekreasi yang menonjol
antara lain :
1. Permainan dan olah raga, permainan dan olah raga
yang terorganisasi tidak menarik, remaja lebih menyukai olah raga tontonan,
permainan yang menuntut ketrampilan dan intelektual seperti main kartu dll.
2. Bersantai dan ngobrol dengan teman sebaya, sambil
ngemil dan bercanda sangat disukai remaja.
3.
Bepergian,
terutama selama liburan. Mereka ingin
pergi jauh dari rumah.
4.
Hobi,
kebanyakan remaja yang tidak populer lebih menekuni hobinya, ketimbang bentuk
rekreasi lain, misal menjahit, memperbaiki radio, sepeda motor dll.
5.
Membaca,
majalah lebih disukai daripada buku.
Pada awal masa remaja komik sangat populer, namun lama-lama komik tidak
lagi menarik, digantikan oleh koran.
6.
Menonton
film merupakan kegiatan klik yang digemari.
Remaja perempuan lebih menyukai film yang romantis, sedang remaja
laki-laki lebih menyukai film petualangan.
7.
Radio dan
kaset, terutama musik-musik populer, remaja mendengarkannya sambil belajar atau
ketika seorang diri.
8.
Televisi,
namun semakin bertambah usia, remaja tidak lagi menyukai televisi.
9. Melamun, lamunan remaja yang khas
adalah membayangkan diri sebagai pahlawan di antara teman sebaya. Kegiatan ini
dilakukan apabila remaja merasa bosan atau kesepian.
! Minat Sosial
Minat sosial
remaja yang cukup dominan antara lain :
1.
Menolong
orang lain yang merasa tidak dimengerti, diperlakukan kurang baik, merasa
tertekan dll. Namun minat ini menurun
karena remaja menyadari tidak ada yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya dan
usaha mereka seringkali tidak dihargai.
2.
Peristiwa
dunia, diperoleh melalui pelajaran sekolah dan media massa. Minat ini diungkapkan melalui bacaan,
pembicaraan dengan teman, guru dan orang tua.
3.
Kritik dan
pembaharuan. Kritik remaja biasanya
bersifat merusak, bukan membangun, usul untuk memperbaiki biasanya tidak
praktis (cenderung terlalu idealis).
Hampir semua remaja, terutama remaja perempuan sangat kritis dan
berusaha memperbaiki orang tua, teman sekolah dan masyarakat.
4.
Cur-hat,
setiap remaja memperoleh rasa aman bila berada di antara temannya dan
membicarakan hal-hal yang menarik atau mengganggunya.
5. Minuman keras dan obat terlarang,
beberapa remaja menggunakannya karena “terpaksa” agar diterima oleh
kelompoknya. Ini cenderung dilakukan
remaja laki-laki.
6.
Pesta. Remaja perempuan lebih menyukai pesta
dibanding remaja laki-laki.
! Minat Pribadi
Minat pada diri sendiri, antara lain :
1.
Penampilan
diri, meliputi pakaian, perhiasan, kerapian, daya tarik, bentuk tubuh. Remaja
beranggapan dukungan sosial, popularitas, pemilihan teman hidup dan karier
dipengaruhi oleh daya tarik seseorang.
2.
Pakaian,
pakaian yang dikenakannya dipengaruhi oleh kelompok, sebagian besar remaja
berusaha menyesuaikan diri dengan yang dikehendaki kelompoknya.
3.
Prestasi
(dalam akademis, olah raga, dll). Minat
untuk berprestasipun dipengaruhi oleh sikap dan minat kelompoknya.
4.
Kemandirian. Minat ini sering menimbulkan perselisihan
dengan orang tua.
Uang, kebanyakan remaja
beranggapan uang adalah kunci kebebasan.
Jika uang masih berasal dari orang tua, maka mereka punya alasan untuk
mengendalikan perilaku remaja.
! Minat Pendidikan
Umumnya remaja suka mengeluh
tentang sekolah dan peraturannya, tentang PR, kursus wajib, les tambahan,
makanan di kantin, cara pengelolaan sekolah, dll. Mereka bersikap kritis terhadap guru dan cara
guru mengajar.
Besarnya
minat remaja pada pendidikan dipengaruhi oleh minatnya pada pekerjaan serta
pengaruh lingkungan. Ada 3 klasifikasi
remaja yang tidak berminat pada pendidikan dan biasanya membenci sekolah, yaitu
:
1.
Remaja yang
orang tuanya memiliki cita-cita tinggi yang tidak realistik terhadap prestasi
akademik atau prestasi sosial anaknya dan terus menerus mendesak untuk mencapai
hal itu.
2.
Remaja yang
kurang diterima oleh teman sekelas, tidak mengalami kegembiraan seperti
teman-temannya dalam pelbagai kegiatan ekskul.
3.
Remaja yang
matang lebih awal, fisiknya jauh lebih besar dan penampilannya lebih tua dari
teman-temannya.
4.
Para remaja
dalam kelompok ini menunjukkan ketidaksenangan terhadap pendidikan dengan cara
: menjadi orang yang berprestasi rendah, bekerja di bawah kemampuannya dalam
setiap mata pelajaran atau pelajaran yang tidak disukai; membolos, berhenti
sekolah setelah duduk di kelas terakhir, dll.
! Minat pada Pekerjaan
Remaja yang bersekolah di sekolah
menengah atas mulai memikirkan masa depan mereka secara sungguh-sungguh,
terutama remaja laki-laki.
Remaja menginginkan pekerjaan
yang menarik, bergengsi dan menggairahkan tanpa memperhatikan kemampuan dan
kesempatan yang ada.
! Minat pada Agama
Selama massa
remaja simbol status berfungsi untuk :
- menunjukkan ia memiliki status sosial ekonomi lebih
tinggi dibanding yang lain dalam kelompok
-
menunjukkan
ia mampu mencapai prestasi yang tinggi
-
menunjukka
bahwa ia diterima dalam kelompok karena penampilan atau perbuatannya
-
menunjukkan
bahwa ia mempunyai status hampir dewasa dalam masyarakat.
! Minat pada Simbol Status
Kecenderungan yang terjadi saat
ini, minat remaja terhadap agama cukup besar, karena mereka menyadari agama
berperan penting dalam kehidupan. Namun
ada sebagian remaja yang menganggap agama sebagai sumber dari rangsangan
emosional dan intelektual, sehingga ingin mempelajarinya berdasarkan pengertian
intelektual. Mereka ingin menerima agama
sebagai sesuatu yang bermakna berdasarkan keinginan untuk mandiri dan bebas
menentukan keputusan-keputusan mereka sendiri.
! Minat dan Perilaku Seks
Di masa remaja terjadi perubahan
perilaku dan sikap seksual yang menonjol.
Jika pada masa anak-anak mereka lebih suka bermain dan bergaul dengan
teman sejenis, maka pada masa remaja ketertarikan terhadap lawan jenisnya
sangat besar. Kegiatan yang melibatkan laki-laki dan perempuan
sangat sering mereka lakukan. Terjadi
pula perubahan perilaku seksual remaja saat ini dibanding remaja masa
sebelumnya. Apa yang sebelumnya dianggap
tabu oleh remaja zaman dulu, kini mulai dianggap wajar bahkan seharusnya oleh
remaja saat ini. Hal ini seringkali
mereka lakukan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka terhadap lawan jenis atau
karena ingin diterima oleh kelompoknya.
Pendidikan
seksual yang benar di masa ini menjadi sangat penting agar mereka memperoleh
penerangan dan pemahaman yang benar tentang seks dan peran pria dan wanita
dalam keluarga dan masyarakat.
3.7. Klasifikasi Tipe Remaja
a. Klasifikasi
remaja berdasarkan akhlaqnya :
1.
Remaja
berakhlaq Islami, mereka rajin beribadah, hanif dan relatif cepat menerima
dakwah
2.
Remaja
berakhlaq asasi, mereka tidak taat beragama, tapi tidak mau terang-terangan
dalam berbuat maksiat karena masih menghormati harga dirinya.
3.
Remaja
berakhlaq jahiliyah, mereka tidak perduli terhadap harga dirinya dan agamanya,
cenderung seenaknya.
Orang tipe
pertama dinomorsatukan dalam pendekatan dakwah, karena mereka relatif mudah
menerima dakwah, kemudian baru tipe nomor 2, untuk tipe nomor 3 relatif susah
sehingga butuh waktu dan kesabaran untuk mendekatinya. Namun, logika ini bisa saja jadi terbalik
dengan izin Allah.
b. Klasifikasi remaja berdasarkan
aktivitas :
1.
Aktivis
lembaga agama (ROHIS, IRM, dll)
2.
Aktivis
lembaga umum (OSIS, PRAMUKA, PMR, dll)
3.
Siswa non
aktivis (tidak terlibat dalam kegiatan apapun, baik di dalam maupun di luar
sekolah)
Remaja
aktivis lembaga agama mesti diprioritaskan, karena selain ketertarikan mereka
terhadap Islam cukup besar, semangat mereka untuk berdakwah juga sudah mulai
muncul.
c. Klasifikasi
remaja berdasarkan penerimaan sosial terhadap
dirinya :
a)
Remaja yang
diterima lingkungan sosialnya, misal remaja berprestasi, karena status sosial
ekonomi, aktivis lembaga di sekolah
b)
Remaja yang
ditolak lingkungan sosialnya, karena perilaku anti sosial, rendah prestasinya,
dll.
Remaja tipe
pertama cenderung ekstrovert dan bersikap terbuka terhadap stimulus dari luar
dirinya, sehingga lebih mudah didekati, sementara tipe kedua cenderung
membangun jarak sosial sehingga susah didekati.
3.8.
Beberapa Catatan
Ø Kondisi-kondisi yang
mempengaruhi konsep diri remaja
1. Usia kematangan. Remaja yang matang
lebih awal dan diperlakukan seperti orang dewasa mengembangkan konsep diri yang
menyenangkan sehingga mampu menyesuaikan diri dengan baik, sementara remaja
yang matang terlambat, diperlakukan seperti anak-anak, merasa salah dimengerti
dan bernasib kurang baik cenderung kurang dapat menyesuaikan diri.
2. Penampilan diri yang berbeda dengan kelompok sebaya membuat remaja rendah
diri meski perbedaan itu menambah daya tarik fisik. Tiap cacat fisik merupakan hal yang memalukan
dan menimbulkan rasa rendah diri, sebaliknya daya tarik fisik menimbulkan
penilaian yang meyenangkan dan menambah dukungan sosial.
3. Remaja peka dan merasa malu bila teman sekelompoknya menilai namanya buruk
atau bila mereka memberi julukan yang bernada cemoohan.
4. Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seseorang dan akan
mengidentifikasikan diri dengan orang ini dan ingin mengembangkan pola
kepribadian yang sama.
5. Teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dengan 2 cara :
1)Konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep
teman-teman tentang dirinya, 2)Ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri
kepribadian yang diakui oleh kelompoknya.
6. Remaja yang semasa anak-anak didorong agar kreatif akan berpengaruh positif
pada konsep dirinya, sebaliknya jika tidak ia akan kurang memiliki perasaan
identitas dan individualitas.
7. Bila remaja mempunyai cita-cita yang tidak realistik dan ia gagal, ini akan
menimbulkan perasan tidak mampu dan reaksi-reaksi bertahan dimana ia
menyalahkan orang lain atas kegagalannya.
Remaja yang realistik dengan kemampuannya lebih banyak mengalami
keberhasilan dalam hidup, sehingga menimbulkan rasa percaya diri dan kepuasan
diri yang besar.
Ketika remaja mengalami kegagalan
dalam penyesuaian diri (secara fisik, moral dan sosial), secara umum gejala ini
dapat diketahui dari :
Remaja tidak
bertanggung jawab, dilihat dari perilakunya (misal mengabaikan pelajaran,
hura-hura, dll)
Agresif dan
sangat yakin pada diri sendiri
Perasaan
tidak aman, menyebabkan remaja patuh pada aturan-aturan kelompok
Ingin
menjauhkan diri dari lingkungan yang dikenal
Mudah menyerah (putus asa)
Terlalu banyak berkhayal untuk
mengimbangi ketidakpuasan yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari
Mundur ke tingkat perilaku yang
sebelumnya agar disenangi dan diperhatikan
Menggunakan mekanisme pertahanan
seperti rasionalisasi, proyeksi, berkhayal dan memindahkan.
3.9. Tinjauan Psikologis dalam Metode
Pembinaan
Dengan karakterisitik dan tinjauan psikologis objek
Pembinaan dakwah sekolah tersebut, beberapa metode tarbiyah yang dapat
digunakan antara lain :
v Metode dakwah fardhiyyah sangat sentral untuk
membangun hubungan dan kedekatan dengan objek tarbiyah dakwah sekolah. Karena kondisi fisik, mental dan sosialnya yang
masih labil, mereka sangat membutuhkan teman untuk sharing, teman yang mau
mengerti dan menerimanya. Mereka akan
menjauh ketika merasa didikte, diatur dan didominasi, namun juga akan kecewa
ketika dijauhi, tidak diacuhkan dan dinomorduakan.
v Remaja sangat dipengaruhi oleh teman dan kliknya,
sehingga jalinlah hubungan baik dengan orang kunci dalam kelompok mereka,
nantinya ia akan mengajak teman-temannya untuk ikut serta.
v Remaja dalam masa pencarian identitas sangat
memerlukan sosok idola, mereka akan melakukan imitasi dan identifikasi terhadap
sosok itu. Karenanya jika mungkin
jadilah panutan bagi mereka, jika tidak berikan mereka arahan untuk mencari
idola yang tepat.
v Buatlah kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan minat
remaja, di bidang rekreasi, sosial, agama.
v Remaja cenderung meletakkan harapannya setinggi
langit, dia akan kecewa ketika apa yang diharapkannya tidak ia dapatkan, bantu
mereka untuk melewati masa ini, buatlah mereka lebih realistis memandang
hidup. Usahakan jangan membuat mereka
kecewa, sekali remaja kecewa, susah untuk diperbaiki.
v Tujuan umum tarbiyah adalah membuat seorang
berkembang dan tumbuh menjadi lebih baik sesuai dengan potensi dan
kepribadiannya dalam bingkai Islam, jangan pernah berangan-angan menjadikan
mereka “Super hero” apalagi mengharapkan mereka jadi identik dengan kita.
Secara garis besar, ada dua pola pendekatan kepada
remaja, yaitu :
1. Pendekatan potensi, yaitu pendekatan remaja dengan mengedepankan penggalian
dan pengembangan potensi remaja agar potensi mereka dapat digali, ditemukan dan
dikembangkan. Misal : klub-klub olahraga, kelompok ilmiah remaja, berbagai
ekstra kurikuler di sekolah, dsb.
2.
Pendekatan problem,
yaitu pendekatan kepada remaja dengan mengedepankan penyelesaian problem
remaja. Misal
: lembaga konsultasi problem remaja, dll.
Pembinaan
dengan pendekatan potensi saja memiliki keunggulan dari sisi produk yang
mempunyai keunggulan dalam bidang tertentu sesuai potensi yang dikembangkan
(remaja berpotensi). Kelemahannya ketika permasalahan-permasalahan yang
dimiliki remaja tidak terungkap dan terselesaikan sehingga dapat menjadi bom
waktu yang menghambat perkembangan potensinya lebih lanjut.
Pembinaan
dengan pendekatan problem saja memiliki keunggulan di sisi jangkauan obyek yang
lebih luas (mampu menjangkau remaja bermasalah) dan kemampuan men-therapi
permasalahan-permasalahan remaja. Kelemahannya ketika remaja yang dibina
dianggap telah terselesaikan masalahnya, tidak dibina lagi, sehingga
potensi-potensinya tidak berkembang,
remaja tersebut berhenti pada status “anak baik”, tidak sampai “anak
berprestasi”.
Tarbiyah
untuk remaja/pelajar harus menggabungkan dua pola pendekatan tersebut secara
proporsional sesuai kondisi obyeknya.
MATERI MAISMANDA
1.
TA’ARUF & ADAB MAJELIS
2.
AYO MENGKAJI !
3.
MEANING OF LIFE (Memahami Arti
Sebuah Kehidupan)
4.
SHOW ONLY FOR ALLAH (Ikhlash)
5.
LIGHT UP THE LIFE (Bagaimana
Hidup Lebih Berarti)
6.
SIMBOL KESUKSESAN HIDUP
7.
KISAH
SAHABAT (MUSH’AB BIN UMAIR)
8.
MENGAPA KITA BERISLAM
9.
MENGENAL ALLAH (MA’RIFATULLAH)
10.
MENGENAL SANG IDOLA
11.
AKHLAQ CERMIN KEPRIBADIAN
12.
INDAHNYA ISLAM
13.
ISLAM
PASTI MENANG (ISLAM SOLUSI PERMASALAHAN)
14.
KISAH
SAHABAT (Muadz bin Jabal)
15.
PROBLEMATIKA UMMAT
16.
GHOZWUL FIKRI – JAHILIYAH ABAD
21
17.
ELEGI 2 CINTA
18.
BINA DIRI DENGAN ISLAM
19.
BERSIH HATINYA
20.
AYO BERDAKWAH
21.
YANG MENIMANG YANG DISAYANG
22.
UKHUWAH ISLAMIYAH
23.
KISAH PERANG BADAR
1. TA’ARUF
& ADAB MAJELIS
Tujuan
F
Peserta memahami urgensi ta’aruf
F
Peserta memahami adab bermajelis
F Terciptanya interaksi yang hidup antara mentor dan peserta.
Metode
Pendekatan
F Games
F Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
Mentor
meminta salah seorang peserta untuk membaca QS. 49:10-13.
|
5’
|
Games
|
Mentor memberikan games dan hikmahnya
|
10’
|
Ceramah
|
25’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Games I
A. Judul : Kenalan Yuk !
B.
Langkah-langkah :
1.
Mintalah peserta untuk berpasangan
2.
Mintalah peserta dengan masing-masing
pasangannya untuk saling berkenalan meliputi hal-hal berikut ini :Nama lengkap,
Alamat, Asal sekolah, Asal daerah, Hobi, Cita-cita
3.
Mintalah peserta dan masing-masing
pasangannya untuk secara bersilang mengenalkan diri mereka.
C. Hikmah
:
1.
Pentingnya ta’aruf dalam pergaulan.
2. Tak kenal maka tak sayang.
(Usahakan mentor untuk menghafal nama masing-masing peserta)
Games II
A. Judul : Mari Menghapal Nama
B. Langkah-langkah
1. Mintalah peserta untuk membentuk lingkaran.
2. Mentor memberikan benda (bisa apa saja; pulpen, buku, pinsil dll) kepada
peserta yang disebelah kanan dengan menyebutkan ....(nama peserta) ini .....
(nama benda) dari....(nama mentor).
3. Peserta yang menerima menjawab terima kasih.....(nama mentor)
saya.....(nama peserta), lalu memberikan
kepada yang disebelah kanannya dengan menyebutkan.....(nama peserta penerima)
ini ..... (nama benda) dari....(nama mentor),....(nama pemberi)
4. Permainan di lanjutkan
Rincian Bahasan
Urgensi Ta'aruf : QS. Al Hujurat
(49) : 13 ; An-Nisa’ (4) : 1
F Kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial
F Tahapan pertama dalam berukhuwah
F Sebagai
pintu gerbang kepercayaan
Adab Majelis
- Pertemuan dibuka dengan membaca basmalah secara
jama'i (bersama-sama)
- Seianjut tiiawah
AI-Qur'an secara tadarus muiai dari instruktur hingga semua peserta
melaksanakannya
- Jika dibacakan
al-Qur'an, maka dengarkan dan simaklah (QS : 7 : 204)
- Bacalah Idzti'azah
(mohon perlindungan) sebeium membaca AI-Qur'an (QS : 16 : 98)
- Hendaklah berinfaq atau shadaqah
untuk keperluan dakwah/kelompok sebeium memulai pertemuan (QS : 58 : 12)
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) ãLäêøyf»tR tAqß§9$#
(#qãBÏds)sù tû÷üt/ ôyt óOä31uqøgwU Zps%y|¹ 4
y7Ï9ºs
×öyz ö/ä3©9 ãygôÛr&ur
4
bÎ*sù óO©9
(#rßÅgrB ¨bÎ*sù ©!$#
Öqàÿxî
îLìÏm§
ÇÊËÈ
Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan
pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada
orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan
lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) Maka
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
·
Jangan membicarakan kemungkaran (QS : 58 : 9)
$pkr'¯»t úïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) ÷Läêøyf»uZs?
xsù
(#öqyf»oYoKs?
ÉOøOM}$$Î/
Èbºurôãèø9$#ur ÏMuÅÁ÷ètBur ÉAqß§9$#
(#öqyf»uZs?ur
ÎhÉ9ø9$$Î/ 3uqø)G9$#ur
(
(#qà)¨?$#ur ©!$#
üÏ%©!$# Ïmøs9Î) tbrç|³øtéB ÇÒÈ
Hai orang-orang beriman,
apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu
mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang
demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh
(yang akan disedekahkan) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
·
Beriapang dada dalam majelis (QS: 58 :11)
·
Meminta izin bila ingin meniggalkan majelis pertemuan (QS : 24 : 62)
·
Jika ada yang memanggil dari luar, hendaklah ia menuggu dulu (QS ; 49 :
4-5)
·
Jangan memperdebatkan isi AI-Qur'an (QS : 40 : 35-36)
·
Diskusikanlah AI-Qur'an dengan baik dan penuh hikmah (QS: 16 :125)
·
Jika berselisih pendapat, hendaklah dikembalikan kepada AI-Qur'an dan
Hadits (QS : 25 : 73)
·
Pertemuan ditutup dengan membaca hamdalah, istighfar dan kifarat
(penutup) majelis , " Subhanakailahumma wa bihamdika Asy-hadu alia
ilahailla anta, astaghfiruka wa'atubuh iiaik" (HR At-Tirmidzi, hadits
hasan shahih)
Pembentukan
pengurus majelis
F Pentingnya
penataan dalam aktivitas à Ali bin Abi Tahlib ra. Berkata : “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan dengan kebatilan
yang terorganisir”.
F Pemilihan
: Ketua, sekretaris, bendahara
Refrensi
1 Al Qur’an dan
Tejemahannya, Departemen Agama RI
1 Bercinta dan Bersaudara
karena Allah, Husni Adham Jaror, GIP
2. AYO
MENGKAJI !
Tujuan
F
Peserta menyadari
pentingnya ilmu dalam kehidupan.
F Peserta
memahami keutamaan orang berilmu
F Termotivasinya peserta untuk menuntut ilmu.
Metode
Pendekatan
F Games
F Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
Mentor
meminta salah seorang peserta untuk membaca QS. 35:27-30.
|
5’
|
Games
|
Mentor memberikan games dan hikmahnya
|
10’
|
Ceramah
|
25’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Games
A
Judul : “Ayo Berhitung”
B.
Langkah-langkah :
Tahap
I :
1.Mintalah
masing-masing peserta untuk menghitung
jumlah angka 1 sampai 50 dengan cepat. Beri waktu maksimal 3 menit.
2.Mintalah mereka yang berhasil menghitung
dengan cepat, bagaimana caranya memperoleh hasil tersebut.
Tahap II :
1.
Ajarkan cara menghitung yang lebih cepat dengan cara menjumlah 1 dan 50, 2 dan
49, 3 dan 48, dst sampai 50 dan 1.
2.
Sehingga diperoleh angka : 51 x 25 = 1275
C. Hikmah :
Pentingnya ilmu dalam
memudahkan penyelesaian masalah.
Dengan ilmu orang
berpeluang berbuat kebaikan lebih banyak
Rincian Bahasan
Urgensi ilmu dalam kehidupan :
Ajaklah peserta memahami kisah-kisah berikut :
F
Kisah Dzulkarnain dalam
surat Al Kahfi yang menguasai Ilmu Pengolahan Logam (QS. 18 :83-100)
F
Kisah Nabi Yusuf yang menguasai Ilmu Mengatur
Kekayaan Negara (QS. 12)
F
Kisah Ilmuwan muslim
dari masa keemasan Islam (terlampir)
Keutamaan Ilmu dan orang berilmu dalam Islam
Dalam Al qur’an pembicaraan tentang keharusan menuntut ilmu, keunggulan
orang berilmu disebutkan dalam beberapa ayat berikut :
F QS. Muhammad (47) : 19 : “Maka
ketahuilah / pelajarilah / ilmuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah …”
F
QS. Al ‘Alaq (96) : 1-5
: “Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah
menciptakanmu. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan
mengagungkan nama tuhanmu yang mulia. Yang
mengajarkan manusia melalui perantaraan pena. Yang mengajarkan manusia apa-apa
yang tidak diketahuinya.”
F QS. Al
Israa (17) : 36 : “Dan janganlah kamu
mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya …”
F QS. Az
Zumar (39) : “Adakah sama orang yang
berilmu dengan orang yang tak berilmu”
F QS. Al
Mujadalah (58) : 11 : “Allah meninggikan
orang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa
derajat…”
F
QS. Al
Hajj (22): 54) : “Dan agar-agar orang-orang yang telah diberi
ilmu meyakini bahwasannya Al Qur’an itulah yang hak dari tuhanmu lalu mereka
beriman dan tunduk hati mereka …”
Sementara dalam beberapa hadits diuraikan sebagai berikut :
F “Belajarlah ilmu , karena belajar ilmu karena karena Allah itu merupakan
salah satu bukti takut kepadaNya, menuntutnya adalah ibadah, mendiskusikannya
adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum
mengetahuinya adalah sedekah, memberikannya kepada keluarganya sebagai
pendekatan diri kepada Allah, karena ilmu itu memberitahu halal dan haram dan
menara cahaya jalan penghuni syurga. (Diriwiyatkan dari : Muadz bin Jabal)
F
“Barangsiapa menginginkan kebahagian hidup di
dunia, maka harus digapai dengan ilmu.
Barangsiapa menginginkan kebahagian hidup di akherat, maka harus digapai
dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan kebahagian hidupdi dunia dan
akherat maka harus digapai pula dengan Ilmu”
F
“Menuntut ilmu adalah
kewajiban bagi setiap mukmin dan mukminat”
F
“Tuntutlah ilmu sejak
lepas dari ayunan hingga liang lahat.”
F
“Tiada kebaikan pada
salah seorang diantara ummatku jika tiada berilmu dan tidak pula menuntut
ilmu.”
F
“Orang yang terbaik
ialah orang beriman lagi berilmu pengetahuan”
(Tambahan di lampiran)
Al Qur’an
memberikan inspirasi bagi pengembangan Ilmu pengetahuan :
F QS. 25 :
53 (Kimia)
F QS. 27 :
87-88 (Geografi)
F QS. 13 : 1 (Sipil)
F QS. 10 :
101 (Atom)
F QS. 55: 33 (Astronomi)
F QS. 22:5 (Kedokteran)
F QS. 89 :
1-3 (Matematika)
Refrensi
1 Al Qur’an dan
Tejemahannya, Departemen Agama RI
1 PKR ’99, LPBASI Ukhuwah
Islamiyah
1 Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah
1 Belajar Itu Menyenangkan, BIP Nurul Fikri,.
1 Etika Dalam Mencari Ilmu, Dr. Yusuf Qordowi
MEANING
OF LIFE (Memahami Arti Sebuah Kehidupan)
Tujuan
Ø Asal usul
manusia
Ø Kedudukan
manusia di antara makhluq Allah yang lain
Ø
Keberadaan insan di
tengah-tengah masyarakat
Ø Ibadah,
misi utama manusia
Ø Peran
manusia sebagai hamba Allah SWT dan Khalifatullah di Bumi
Ø Akherat sebagai orientasi kehidupan jangka panjang dan utama
Metode
Pendekatan
v Games
v Ceramah dan
Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka
pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
Mentor meminta
salah seorang peserta untuk membaca QS. 22:1-5.
|
5’
|
Games
|
Mentor
memberikan games dan hikmahnya
|
10’
|
Ceramah
|
25’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor
menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Games
A Judul : “Dari Mana Datangnya Lintah”
B. Langkah-langkah :
Tahap I :
1. Apakah
manusia itu hewan yang dapat berfikir? Mari kita
buktikan (Kelompokkan peserta dalam 3 kelompok)
2. Masing-masing
kelompok diminta memilih satu jenis binatang
3. Masing-masing
kelompok diminta memberikan penjelasan
tentang :
3.1. Dari mana asal kejadian binatang itu
3.2. Untuk apa binatang itu hadir di alam
3.3. Apa yang dikerjakannya selama hidup
3.4. Kemana kira-kira setelah mati
Tahap II :
F Masing-masing kelompok diminta menjelaskan tentang manusia
- Darimana asal
kejadiannya
- Untuk apa hadir
di dunia
- Apa yang akan
dikerjakannya
- Kemana setelah
mati
F Ditekankan pentingnya memahami
arti kehidupan karena penciptaan dirinya ke dunia ini bukan sekedar main-main
saja tapi memiliki keunggulan yang akan dipertanggung-jawabkan. (QS. Al-Mu’minun (23) : 115 – 118 ; Adz-dzariyat
(51) : 21)
Rincian Bahasan
Darimana
asal kejadiannya
Dari
Allah SWT, Sang Maha Pencipta, dibuktikan dengan dalil Al Quran (Naqli) : QS.
Al Hajj (22) : 5 ; QS. Al Mu’minun (23)
: 10 –14 ; QS. An-Nahl (16 :78) ; QS. At-Tien (95) : 1-15)
dan
dalil Aqli (akal).
Komponen Manusia
a. Akal
(QS. 17:36 ; 67:10)
b. Ruh (QS. 75:14 ; 26 :88-89)
c. Jasad (QS. 9 : 105)
Potensi / Keunggulan yang diberikan Allah Sang maha Pencipta kepada
Manusia
F
Keistimewaan (QS. 17 : 70 )
F
Ditundukannya alam untuk manusia oleh Allah SWT ( QS. 45 : 12, 2 : 29 , 67 : 15 )
Untuk apa hadir di dunia à QS. Al Jasiyah (45) :23-24
a. Kepada
Allah SWT : Beriman ( 49 :13)
Beribadah/ beramal (51:56)
Ta’at (24:36)
Beribadah menurut Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah adalah : “segala sesuatu
yang dikerjakan bersifat dhohir maupun
batin yang bertujuan untuk mendapatkan ridho Allah SWT semata (Ikhlas) dan
sesuatu dengan tuntunan Rasul-Nya.”
b. Kepada Rasulullah : Meneladani/mengidolakan
(33:21)
Meneruskan
perjuangannya (3:31)
c. Kepada Manusia : Berbuat
Baik
Berbakti
kepada orang tua (lihat materi birrul walidain)
d. Kepada Alam : Menjaga,
Melestarikan dan memanfaatkan
Kemana Setelah Mati
1. Potensi yang
diberikan Allah SWT harus
dipertanggungjawabkan mengenai bagaimana pendayagunaan
(QS. 7:179)
2. Hanya ada dua pilihan
(18:29-30)
- Surga (Diberikan kepada mereka yang
menggunakan potensi sesuai dengan perintah Sang Maha pencipta)
- Neraka
(Diberikan kepada mereka yang menggunakan potensi tidak sesuai dengan perintah
Sang Maha pencipta)
Apa
yang harus dikerjakan
Ø Tahu
Konsekwensi
Ø Allah SWT
memberikan kebebasan untuk memilih dan sekaligus berani untuk bertanggung
jawab (QS. 90 : 10 ; 76 : 3 ; 64 : 2 ; 18 :29 )
Refrensi
v Dr. Yusuf Qorodlowy, Ibadah dalam pandangan
Islam
v Al Ummah, Aqidah seorang Muslim
v Sayid Sabiq, Pola Hidup
Manusia Beriman
v Aziz salim, Tempat Anda
Menurut Al Quran
v Abul A’la al Maududi,
Tanggung Jawab Ummat Islam di Hadapan Ummat Dunia
4. SHOW ONLY FOR ALLAH
(Ikhlash)
TUJUAN
:
Ø Peserta
memahami makna ikhlassunniyah baik secara bahasa maupun istilah
Ø Peserta
memahami pentingnya ikhlassunniyah dalam beramal
Ø Peserta
mengetahui cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas
RINCIAN
BAHASAN
Secara
bahasa ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti bersih/murni.
Sedangkan niat berarti al-qoshdu
artinya, maksud atau tujuan. Ikhlassunniyah berarti membersihkan maksud
dan motivasi kepada Allah dari maksud dan niat lain. Hanya mengkhususkan Allah
azza wajalla sebagai tujuan dalam berbuat. Allah telah memerintahkan kita untuk
ikhlas dalam beramal dan beribadah kepadanya seperti yang tercantum dalam
QS.98:5; 7:29 ; 18:110.
Pentingnya
Ikhlassunniyah
Merupakan
ruhnya amal karena seperti badan yang tidak ada ruhnya, maka tanpa ikhlas amal;
sebagus apapun tidak ada artinya.
Salah satu syarat diterimanya amal.”Allah
azza wajalla tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas
dalam mencari keridhoannya semata”(HR.Abu Daud dan Nasai)
Syarat
diterimanya amal atau perbuatan:
¨ Bersungguh-sungguh
dalam melaksanakannya
¨ Ikhlas
dalam berniat
¨
Sesuai dengan
syariat Islam(al-Qur’an dan Sunnah)
Penentu
nilai/kualitas suatu amal (QS.4:125),”Sesungguhnya segala amal perbuatan
tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan.
Maka barangsiapa hijrah menuju ridho Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu
kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah kepada dunia (harta atau
kemegahan dunia) atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka
hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”(HR.Bukhari- Muslim)
Mendatangkan
berkah dan pahala dari Allah (QS.2:262; 4:145-146).
Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas
Mengetahui arti
keikhlasan dan urgensinya dalam beramal
Menambah
pengetahuan tentang Allah swt dan hari kiamat. Dengan mengetahui ilmu tentang-Nya,
maka seseoang mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya tentulah tidak akan
berani berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya di dalam niatnya).
Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya nanti di akhirat.
Memperbanyak membaca/berinteraksi
dengan al-Qur’an, karena al-Quran adalah penyembuh dari segala penyakit dalam
dada (QS.10:57) termasuk penyakit riya, ujub, dan sum’ah.
Memperbanyak
amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah semata
tanpa diketahui orang lain.
Menghindari /
mengurangi saling memuji, karena dengan pujian terkadang orang jadi lalai
hatinya dan menjadi sombong.
Berdoa, dengan
tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik. Doa yang
dicontohkan oleh Rasulullah saw : “Allahumma innii a’udzubika annusyrikabika
syaian a’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu.” (Ya Allah aku
berlindung kepada-Mu dari syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang aku lakukan dan
aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.)
DISKUSI
Suatu ketika di sebuah kereta, Amin akan memberikan infaq kepada pengurus
masjid yang mengumpulkannya lewat kotak-kotak yang disodorkan kepada para
penumpang. Ketika kotak itu hampir mendekati tempat duduknya, ia mengurungkan
niatnya memberikan infaq, karena takut riya kepada orang-orang di sekitarnya. Bagaimana
menurut pendapatmu? Tepatkah yang dilakukan Amin tersebut?
REFERENSI
¨
Imam
al-Ghazali,Ibnu Razab al-Hambali,dan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah,Pembersih Jiwa,
Pustaka.
¨
Ibnu Taimiyah, Etika
beramar ma’ruf nahi munkar,GIP.
¨
Panduan Aktivis Harokah,hal.42,al-ummah.
“Meninggalkan AMAL karena manusia
adalah riya.
Beramal karena manusia adalah syirik.
IKHLAS beramal adalah yang selamat dari keduanya.”
(Fudhail bin ‘Iyadh)
5. LIGHT UP THE LIFE
(Bagaimana Hidup Lebih Berarti)
TUJUAN :
Ø Peserta memahami makna dan hakikat tawazun
Ø Peserta mengetahui potensi-potensi yang ada pada diri
manusia dan kebutuhan-kebutu-hannya
Ø Peserta
mengetahui contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
RINCIAN BAHASAN
Tawazun
artinya seimbang. Allah telah mengisyaratkan agar kita hidup seimbang,
sebagaimana Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah
keseimbangan. (QS.67:3)
Manusia
dan agama Islam kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah
yang telah Allah tetapkan. Mustahil Allah menciptakan agama Islam untuk manusia
yang tidak sesuai dengan fitrah tersebut (QS.30:30). Ayat ini menjelaskan
kepada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu
memilki naluri beragama (agama tauhid : al-Islam) dan Allah menghendaki manusia
untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, itu
hanyalah karena pengaruh lingkungan (Hadits,”Tiap bayi terlahir dalam
keadaan fitrah (Islam) orangtuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi,
Nasrani, atau Majusi.”).
Sesuai
dengan fitrah Allah,manusia memiliki tiga potensi, yaitu al-jasad
(jasmani), al-aql (akal), dan ar-ruh (ruhani). Islam menghendaki
ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang).
Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada QS.55:7-9.
Ketiga potensi ini membutuhkan makanannya masing-masing, yaitu sbb :
1. Jasmani
Jasmani atau fisik adalah amanah dari Allah swt,karena itu harus kita jaga
. Dalam sebuah hadits dikatakan ,”Mu’min yang kuat itu lebih baik atau
disukai Allah daripada mu’min yang lemah.”(HR.Muslim), maka jasmani pun
harus dipenuhi kebutuhannya agar menjadi kuat. Kebutuhannya adalah makanan,
yaitu makanan yang halalan thoyyiban (halal dan baik) (QS.80:24,2:168), beristirahat
(QS.78:9), kebutuhan biologis (QS.30:20-21) dan hal-hal lain yang menjadikan
jasmani kuat.
2. Akal
Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Akal pulalah yang
menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal manusia
mampu mengenali hakikat sesuatu, mencegahnya dari kejahatan dan perbuatan
jelek. Membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang oleh Allah
diperuntukkan baginya supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai
khalifatullah fil-ardhi (wakil Allah di atas bumi) (QS.2:30;33:72). Kebutuhan
akal adalah ilmu (QS.3:190) untuk pemenuhan sarana kehidupannya.
3. Ruh (hati)
Kebutuhannya adalah dzikrullah (QS.13:28;62:9-10). Pemenuhan kebutuhan
ruhani sangat penting, agar ruh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa
pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah
besar yang dilimpahkan kepadanya.
Dengan keseimbangan, manusia dapat meraih kebahagiaan hakiki yang merupakan
ni’mat Allah, karena pelaksanaan syariah sesuai dengan fitrahnya. Untuk skala
ketawazunan akan menempatkan umat Islam menjadi umat pertengahan / ummatan
wasathon (QS.2:143), yaitu umat yang seimbang.
Kebahagiaan pada diri manusia itu dapat berupa:
·
Kebahagiaan bathin/jiwa,
dalam bentuk ketenangan jiwa (QS.13:28)
·
Kebahagiaan
dzahir/gerak, dalam bentuk kesetabilan, ketenangan ibadah, bekerja dan
aktivitas lainnya.
Dengan menyeimbangkan dirinya, maka manusia tersebut tergolong sebagai
hamba yang pandai mensyukuri ni’mat Allah. Hamba/manusia seperti inilah yang disebut
manusia seutuhnya.
Contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
·
Manusia Atheis: tidak
mengakui Allah, hanya bersandar pada akal (rasio sebagai dasar).
·
Manusia Materialis:
mementingkan masalah jasmani/materi saja.
·
Manusia Pantheis
(kebatinan): bersandar pada hati/batinnya saja.
DISKUSI
1.
Banyak artis yang hidup dengan kemewahan,
namun akhirnya dia mati bunuh diri akibat over dosis obat-obatan terlarang
(NAZA). Menurut kamu, apa sebenarnya arti kebahagiaan itu?
2.
Sejujurnya, apakah kamu selama ini sudah hidup
seimbang?
3. Coba diskusikan dengan temanmu, usaha-usaha apa saja yang sudah dan akan
kamu lakukan agar hidup kamu seimbang?
REFERENSI
Al-Qadiry, Seimbanglah
dalam Beragama,Jakarta:GIP
Silabus Materi
Mentoring th 1994/1995
SIMBOL KESUKSESAN HIDUP
Tujuan
F
Peserta memahami
potensi-potensi yang ada pada diri manusia dan kebutuhan-kebutuhannya.
F
Peserta memahami
pentingnya tawazun (keseimbangan) dalam hidup
F Peserta memahami bahayanya ketidakseimbangan dalam hidup.
F Peserta termotivasi untuk dapat hidup tawazun.
Metode
Pendekatan
v Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka
pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
Mentor
meminta salah seorang peserta untuk membaca QS. 3:180-185
|
5’
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor
menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Rincian Bahasan
Hakikat
Sukses dalam Islam
1. Terbebas dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga (QS. 3:185)
2.
Keridhaan kita atas
keputusan Allah, dan Keridhaan Allah atas apa yang kita kerjakan (QS. Al
Bayyinah (98) : 5 ;
Al
Mursalat (77) : 30)
Prinsip
kesuksesan dalam Islam
1. Semata-mata
mengharap ridha Allah bukan selainnya (QS. 2:207)
2. Hari ini lebih
baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini :
v “Manusia yang beruntung ialah mereka yang
kondisinya hari ini lebih baik dari kemarin.”
3. Prinsip lebah :
v “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak
manfaatnya bagi sesamanya,”
4. Prinsip Tawazun
v (QS. Al Baqarah (2) : 143 ;
Ar-rahman (55) : 7-9)
Langkah-langkah menuju kesuksesan hidup
Langkah-langkah
untuk mencapai sukses dalam kehidupan disebut langkah hidup.
Pikiran adalah
langkah hidup
Pikiran manusia bukan saja sebagai tool (alat), tapi juga merupakan suatu
control (kendali). Karena itu dia juga menentukan
apa-apa yang akan kita lakukan. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dalam
memebrikan input (masukan) ke dalam pikiran kita. Kita harus selalu memeriksa
isi pikiran kita dan mengisinya dengan pemikiran yang bersih. (QS. 3:190-191)
Ucapan adalah
langkah hidup
Yang membedakan ucapan adalah nilai dan isi yang terkandung di dalamnya.
Ucapan yang mempunyai nilai dan isi yang baiklah yang akan menyelematkan kita.
Dan yang sebaliknya akan ‘membinasakan’ kita
“Barangsiapa yang
beriman kepada Allah dan hari kiamat, berkatalah yang baik atau diam.
(HR. Bukhari
Muslim).
“Barangsiapa yang
menjamin untukku dengan apa yang ada diantara dua tulang rahangnya dan diantara
dua kakinya, maka aku jamin surga baginya.” (HR. Bukahri)
Tindakan adalah
langkah Hidup
Seseorang membutuhkan tindakan untuk mencapai sukses.
Jika tindakan (amal) yang dilakukan itu kebajikan, maka berlakukah ‘barangsiapa menanam dia akan memetik
hasilnya’. Sebaliknya, jika tindakannya berupa kemaksiatan, maka berlakulah
‘barangsiapa menggali lubang maka ia akan
terperosok ke dalamnya’. Kedua prinsip tersebut berlaku di dunia atau
akherat, atau kedua-duanya. Bukankah manusia hanya berusaha sedangkan Allah
yang menentukan. (QS. At-taubah (9) : 105 ; Ar-ra’administrasi (13) : 11)
Faktor Eksternal
yang juga ikut menentukan langkah hidup diantaranya adalah: Lingkungan
“Sesunguhnya
perumpamaan bergaul dengan teman yang baik dan orang yang jahat adalah seperti
bergaul dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Teman penjual minyak wangi
itu boleh jadi akan memberi minyak wangi kepadamu atau kamu dapat membelinya
atau paling tidak kamu akan mendapat bau harum daripadanya. Sedangkan teman
pandai besi boleh jadi akan membuat pakaianmu berlubang (terbakar) atau paling
tidak kamu ikut hangus dengannya.”
(HR. Bukhari –Muslim).
Refrensi
1 Seimbanglah dalam Beragama, Al Qadiry,GIP
1 Simbol Sikses, Paket BP NF.
\
7. KISAH SAHABAT (MUSH’AB BIN UMAIR)
Tujuan
F
Peserta mengetahui salah
satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Mush’ab bin Umair.
F Peserta mengetahui karakteristik akhlaq dan dakwah Mush’ab bin Umair.
F Peserta dapat mengambil hikmah dan mencontoh kelebihan akhlaq Mush’ab bin
Umair.
Metode
Pendekatan
v Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka
pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
Mentor meminta
salah seorang peserta untuk membaca QS. 2:1-10.
|
5’
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor
menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Rincian Bahasan
Sebelum Masuk Islam
Mush’ab bin Umair lahir dan dibesarkan
dalam kesenangan dan kekayaan. Beliau adalah pemuda quraisy yang terkemuka dan
paling tampan, biasa hidup manja dan mewah dan menjadi buah bibir gadis-gadis
Mekkah. Mush’ab bin Umair juga pemuda yang cerdas sehingga memiliki daya pikat
tinggi. Kedua orang tuanya sangat cinta kepadanya. Ibunya tergolong kaya dan
selalu memberinya pakaian yang terbagus. Ia orang yang paling harum di kota Mekkah, karena
memakai minyak wangi yang paling mahal.
Ketika Masuk Islam
Ketika mendengar berita kenabian Muhammad,
Mush’ab bin Umair segera mendatangi Rasulullah SAW dan menyatakan diri masuk
Islam. Ia menyembunyikan keislamannya dari ibunya dan kaumnya,
karena tahu akan mendapat tantangan dari mereka. Tantangan yang paling keras
adalah dari ibundanya sendiri, yaitu Khunas binti Malik. Ibunya berusaha keras
mengembalikan Mush’ab kepada agamanya yang lama dengan berbagai cara, dari mulai
mengurungnya hingga mengusir Mush’ab dari rumahnya dan tidak mengakuinya lagi
sebagai anak. Namun, Mush’ab tetap tegar dengan keimanannya, walaupun harus
dipertaruhkan dengan cinta dan baktinya terhadap ibunda, yang paling
dicintainya. Baginya tidak ada yang harus didahulukan untuk ditaati, kecuali
Allah SWT, Rasul SAW, dan jihad di jalan-Nya. Jika ada cinta dan ketaatan lain
yang menghalangi/mengalahkan cinta dan ketaatan pada ketiganya, maka ia harus
dikesampingkan.
Setelah Masuk Islam
Setelah hidup dalam Islam,
Mush’ab meninggalkan semua kemewahannya, berganti dengan pola hidup sederhana.
Kini Mush’ab hanya memakai pakaian yang sederhana lagi penuh tambalan, padahal
ia dulu bagaikan bunga yang indah lagi harum yang selalu menjadi pusat
perhatian. Terhadap hal ini Rasulullah berkata, “Dahulu saya melihat Mush’ab
ini tak ada yang menandingi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya,
kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Suatu saat Mush’ab dipilih
Rasulullah untuk melakukan suatu tugas yang amat penting pada saat itu. Ia
menjadi duta atau utusan rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk agama
Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berjanji setia kepada
Rasulullah SAW di bukit Aqabah. Disamping itu juga mengajak orang-orang lain
untuk menganut agama Allah serta mempersiapkan kota madinah untuk menyambut
hijrahnya Rasulullah SAW sebagai peristiwa besar. Sebenarnya di kalangan
sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih
dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab bin Umair.
Tetapi ternyata Rasulullah SAW menjatuhkan pilihannya kepada Mush’ab yang masih
muda dengan segala kelebihan-kelebihannya sebagai duta pertama.
Ketika perang Uhud Mush’ab
terpilih menjadi pembawa bendera dalam peperangan. Peristiwa. Peristiwa Mush’ab
dalam perang Uhud ini dikisahkan oleh Ibrahim Ibnu Sa’administrasi. Berkata
Ibnu Ssa’administrasi : “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin
Syurahbil Aal’Aadari dari bapaknya, ia berkata : “Mush’ab bin umair adalah
pembawa bendera dalam perang Uhud. Tatkala barisan muslimin pecah, Mush’ab
bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumalah
namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan :
“Muhammad itu tiada lain seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh
bebera
pa Rasul.” Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk
melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya hingga putus pula. Mush’ab
membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada
sambil mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain seorang Rasul, yang sebelumnya
telah didahului oleh beberapa Rasul.”
Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan
menusukkannya hingga tombak itu patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh.”
Setelah perang Uhud berakhir,
Rasulullah SAW beserta para sahabat dating meninjau medan perpptempuran untuk
menyampaikan perpisahan kepada para syuhada’. Ketika sampai ke tempat
terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata
Khabbah inbu ‘Urrat : “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah SAW dengan
mengharap keridhaanNya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Diantara
kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun
juga. Diantaranya ialah Mush’ab bin Umair yang syahid di parang Uhud. Tak
sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di
atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke
kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Sabda Rasulullah SAW : “Tutupkanlah ke
bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir!”
Hikmah :
F Kecintaan
kepada Allah, Rasul dan jihad harus ditempatkan sebagai prioritas utama di atas
segala-galanya. (QS. Aat-Taubah (9) :24)
F Mush’ab
adalah contoh nyata pemuda yang aktif berdakwah dan menggunakan seluruh
potensinya untuk kepentingan Islam.
F Kita harus
mengambil pelajaran dari sikap Mush’ab bin Umair bahwa : “Tida ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka maksiat pada Allah.
Refrensi
Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat
Rasulullah,
Khalid Muhammad Khalid, CV. Diponegoro.
8.MENGAPA
KITA BERISLAM
Tujuan
F
Peserta memahami mengapa
kita mesti berislam
F
Peserta mengerti dan
memahami Keunggulan Islam dari berbagai segi ; berlaku untuk seluruh masa
kehidupan peradaban manusia ; berlaku untuk seluruh aspek kehidupan manusia ;
dan berlaku untuk segenap tempat.
F
Peserta memahami
gambaran menyeluruh (Built Up) Bangunan
Islam sehingga berusaha untuk mempelajari dan mengamalkannya.
Metode
Pendekatan
F Games
F Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
|
Pembukaan
|
Mentor membuka pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
|
Tilawah
|
5’
|
||
Games
|
Mentor memberikan games dan hikmahnya
|
10’
|
|
Ceramah
|
35’
|
||
Diskusi
|
10’
|
||
Penutup
|
Mentor menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
|
Games
A. Judul :
“Yuk, Bikin Rumah“
B. Metode : Analisa Perbandingan
C. Langkah-langkah :
1. Peserta di bagi beberapa kelompok 3 – 5 orang
2. Di minta membuat / menggambar Rumah Idaman
dengan tahapan :
a. Mendiskusikan
bagaiama tahapan proses membuat rumah
b. Menulis
tahapan dan membuat gambaran sebuah rumah jadi
D. Hikmah
:
1.
Bangunan rumah pasti terdiri dari pondasi
(asas), bangunan (bina’) dan penyokong / pelindung / pagar (mu’ayidat) semakin
besar dan kokoh maka dibutuhkan pondasi dll- harus kokoh
2.
Membangun rumah pasti dimulai dari pondasi
dan seterusnya, demikian ketika kita ingin membangun Islam dalam diri kita
harus bertahap.
Rincian Bahasan
Mengapa Kita ber-Islam ?
1. Sesuai dengan fithrah Manusia (QS. 30:30), Hadits : “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah, dikarenakan kedua orang
tunya dia menjadi Seorang nashrani, yahudi atau majusi.”(HR. Muslim)
2. Rahmat bagi seluruh Alam (QS. 21:107)
3. Meningkatkan kualitas hidup manusia (QS. 2:179)
4. Islam itu unggul dan lengkap ajarannya (QS. 5:3)
Keunggulan
Islam
F
Keunggulan dari segi zaman/masa
Islam
adalah penutup Risalah yang diturunkan Allah SWT kepada para Nabi dan
rasul-Nya sejak zaman Nabi Adam as
hingga kiamat kelak ( QS. 21 : 92 ; 16:36
; 22:78 ; 33 : 42 )
F
Keungulan dari segi ajaran
Islam
diturunkan oleh Sang Maha Pencipta (Allah SWT) yang tentunya Yang Maha Tahu
akan segalanya (QS.25:2). Tentang manusia dan kharakteristiknya maka Islam
memuat ajaran yang lengkap dan sesuai
dengan fithrah manusia
F Keunggulan dari segi tempat dan pengutusan
Islam diciptakan oleh yang menciptakan alam semesta sehingga Islam
merupakan fithroh semesta Alam (QS. 22 : 40) Rasulullah diutus untuk seluruh
manusia & semesta alam (QS. 34:28 ; 21:107)
Kesempurnaan Islam
“Perumpaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti
seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan, kemudian ia memperindah dan
mempercantik bangunan tersebut, kecuali satu tempat batu bata di salah satu
sudutnya, ketika orang-orang mengitarinya mereka kagum dan berkata : “Alangkah
indahnya, jika batu bata ini diletakkan?” Akulah batu bata itu dan aku adalah
penutup para Nabi (HR. Bukhari Muslim)
Konsepsi Islam bisa digambarkan sebagai sebuah bangunan
yang utuh dan kokoh. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Buniyal Islami ‘ala khamsin … (Bangunan Islam itu
terdiri dai lima perkara). Lihat juga QS. 61:4)
ASAS / PONDASI, yaitu :
Aqidah / keimanan mencakup dua kalimat syahadat dan Rukun
Iman yang enam (QS. 2:177 ; 47:19)
BINA’/BANGUNAN yaitu :
Ibadah (51 : 56)
yang menurut Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah adalah segala sesuatu yang
dikerjakan bersifat dhohir maupun batin yang bertujuan untuk mendapatkan
ridho Allah SWT semata (Ikhlas) dan sesuati dengan tuntunan Rasul-Nya
(QS. 6:163 à diberikan penjelasan tentang makna ibadah à ilustrasi mulai bangun tidur hingga
tidur kembali)
Akhlaq
yang menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah segala
perbuatan,perkatan dan tindak tanduk seorang muslim yang dilakukan secara sadar
maupun tidak sadar.
Dan Akhlaq Rasulullah adalah Akhlaqul Quran maka begitu
pula seorang Muslim
Syari’ah/ Hukum
Islam adalah
agama yang mengatur segenap aspek Kehidupan baik Duniawi maupun Ukhrawi
F Konsep
sosial & kemasyarakatan ( QS. 24:27
; 49:10-13 ; 2:172-173)
F Konsep
perekonomi (QS. 2:275,282-283)
F Konsep
politik (QS. 8:61 ; 42:38 ; 2:242-248)
F Konsep
pendidikan (QS.3:190-191,159 ; 41:53 ; 2:151)
F Konsep
militer (QS. 8:60, 9:5-8)
F Dan
lain-lain
F
PENYANGGA, yaitu :
Da’wah ,(QS. 3 :
104, 7 : 99 , 9 : 112, 16 : 125, 41 : 33)
memangil manusia
untuk tunduk pada Allah SWT dengan hikmah, kata-kata yang baik dan berdiskusi
yang baik (QS. 16 : 125), membebaskan manusia dari penyembahan terhadap thogut
menuju penyembahan hanya kepada Allah SWT, mengeluarkan manusia dari kegelapan
jahiliyah menuju cahaya Islam ( QS. 2 : 256)
Jihad
Pengerahan
semua potensi yang dimiliki untuk merealisasikan Islam dalam kehidupan ( QS 29
: 6, 69 ; 47 : 31 ; 22:39 -40)
Kesimpulan
1.
Menjadikan Islam sebagai Cara Hidup (Minhajul Hayah) (QS. 3 : 19 ,83,85)
2.
Totalitas dan Bersungguh-sungguh dalam
berIslam (QS. 2 : 85,208 ; 22:78)
Refrensi
1 Pokok-Pokok Ajaran Dinul Islam, Abul
Hasan al Asy’ari ,.
1 Al Islam, Sa’id Hawwa.
1 Pengantar Kajian Dinul Islam, Yusuf
Qorodhowy
1 Kharakteristik Dinul Islam, Yusuf
Qorodhowy
MENGENAL
ALLAH (MA’RIFATULLAH)\
TUJUAN
Ø Peserta memahami makna dan maksud dari ma’rifatullah
Ø Peserta mengetahui manfaat dan pentingnya ma’rifatullah
Ø Peserta mengetahui jalan-jalan untuk mengenal Allah
Ø Peserta mengetahui hal-hal yang menghalangi ma’rifatullah
RINCIAN BAHASAN
Makna Ma’rifatullah
·
Ma’rifatullah berasal
dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah artinya mengetahui, mengenal.
Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda
kebesaran-Nya (ayat-ayat-Nya).
Pentingnya Mengenal
Allah
·
Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu
tujuan hidupnya, tujuan mengapa ia diciptakan (QS.52:56) dan tidak tertipu oleh
dunia. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah akan menjalani hidupnya untuk
dunia saja (QS.47:12).
·
Ma’rifatullah merupakan ilmu yang tertinggi
yang harus dipahami manusia (QS.6:122). Hakikat ilmu adalah memberikan
keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu yang tertinggi,
sebab jika dipahami akan memberikan keyakinan mendalam. Memahami ma’rifatullah
juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah
yang terang (QS.6:122).
·
Berilmu dengan
ma’rifatullah sangat penting, karena :
a.
Berhubungan dengan subjeknya, yaitu Allah
b.
Berhubungan dengan manfaat yang diperoleh,
yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan,
yang dengannya akan diperoleh keberuntungan dan kemenangan.
Islam Untuk Mengenal Allah
1. Lewat Akal
¨
Ayat Kauniyah / ayat
Allah di alam ini :
à
Fenomena terjadinya alam. Setiap sesuatu yang ada pasti ada yang mengadakan, begitu pula alam
semesta ini, tentu ada yang menciptakan (QS.52:35).
à
Fenomena kehendak yang
tinggi. Bila kita perhatikan alam ini, kita akan menemukan
bahwa alam ini tersusun dengan rapinya. Hal ini menunjukan bahwa di sana pasti
ada kehendak yang agung yang bersumber dari Sang Pencipta Yang Maha Pintar dan
Bijaksana (QS.67:3). Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian
siang dan malam terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berakal
(QS.3:190).
à
Fenomena kehidupan (QS.24:45). Kehidupan berbagai makhluk di atas bumi ini menunjukkan bahwa
ada zat yang menciptakan, membentuk, menentukan rizkinya dan meniup ruh
kehidupan pada dirinya (QS.29:20, 21:30). Bagaimanapun pintarnya manusia, tak
akan sanggup menciptakan seekor lalat pun (QS.22:73-74, 46:4).
à
Fenomena petunjuk dan
ilham (QS.20:50). Ketika mempelajari alam semesta ini kita akan melihat suatu
petunjuk yang sempurna, dari yang sekecil-kecilnya sampai yang
sebesar-besarnya. Dari sebuah akar tumbuhan yang mencari air ke dasar bumi,
hingga perjalanan tata surya ini menunjukkan bahwa ada zat yang memberi hidayah
(petunjuk) dan Al-Qur’an menerangkan bahwa ia adalah Allah Yang Menciptakan
lalu memberi hidayah.
à
Fenomena pengabulan
do’a (QS.6:63). Hal yang logis bila seseorang ketika menghadapi bahaya pasti
menghadap Allah dan berdo’a, walaupun ia orang yang kafir / musyrik (QS.17:67,
10:22-23, 6:63-64).
¨
Ayat Qur’aniyah /
ayat Allah di dalam Al-Qur’an :
Þ Keindahan
Al-Qur’an (QS.2:23)
Þ Pemberitahuan
tentang umat yang lampau (QS.9:70)
Þ Pemberitahuan
tentang kejadian yang akan datang (QS.30:1-3, 8:7, 24:55)
2. Lewat memahami Asma’ul Husna
Þ Allah
sebagai Al-Khaliq (QS.40:62)
Þ
Allah sebagai Pemberi
Rizqi (QS.35:3, 11:6)
Þ Allah
sebagai Pemilik (QS.2:284)
Þ Dan
lain-lain (QS.59:22-24)
Hal-hal yang
menghalangi Ma’rifatullah
·
Kesombongan (QS.7:146, 25:21).
Sebagaimana lazimnya orang yang sombong yang tidak mau mengenal sesamanya,
begitu pula manusia yang sombong terhadap Rabbnya, yang enggan berhubungan
dengan-Nya.
·
Zalim (QS.4:153). Perbuatan
zalim yang besar, menyebabkan Allah mengunci hati manusia. Padahal lewat hati
inilah Allah memberikan hidayah-Nya. Sedangkan awal hidayah seseorang ialah
mengenal hakikat-Nya lagi.
·
Bersandar pada panca indera
(QS.2:55). Mereka tidak beriman kepada Allah dengan dalih tidak bisa melihat
Allah, padahal banyak sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, tapi mereka yakin keberadaannya,
seperti gaya
gravitasi bumi, arus listrik, akalpikiran, dsb.
·
Dusta (QS.7:176). Lazimnya
seorang yang dusta, yang tidak sama antara hati dan ucapannya,perbuatannya.
Begitu pula manusia yang berdusta terhadap Allah. Sebenarnya hati mengakui keberadaan
Allah, namun hawa nafsunya menolak dan mengajaknya berdusta.
·
Membatalkan janji dengan
Allah (QS.2:26-27)
·
Lalai (QS.21:1-3)
·
Banyak berbuat maksiat. Satu
perbuatan maksiat bagaikan satu titik noda hitam yang mengotori hati manusia.
Bila manusia banyak berbuat maksiat sedangkan ia tidak bertaubat, niscaya hati
tersebut akan tertutup noda-noda hitam hingga menghalangi masuknya hidayah
Allah.
·
Ragu-ragu (QS.6:109-10)
Semua
sifat di atas merupakan bibit-bibit kekafiran kepada Allah yang harus
dibersihkan dari hati. Sebab, kekafiranlah yang menyebabkan Allah mengunci
mati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka
(QS.2:6-7).
DISKUSI
Perhatikanlah susunan
tubuhmu. Jelaskanlah kekuasaan Allah yang kamu temui pada tubuhmu!
REFERENSI
Said Hawa, Allah
Jalla Jalaluhu
Al-Ummah, Aqidah
Seorang Muslim 1
10. MENGENAL SANG IDOLA
TUJUAN
Ø Peserta memahami makna risalah dan Rasul
Ø Peserta memahami kewajiban beriman kepada Rasul
Ø Peserta mengetahui tugas para Rasul
Ø Peserta mengetahui
sifat-sifat Rasul
GAMES
A. Judul : Games Ilmu
B. Skema/gambar :
C. Media dan Bahan :
1. Sebuah
naskah pembahasan
2.
Serangkaian petunjuk
3. Tiga
lembar kertas bujursangkar per orang atau kelompok
4. Sebuah
gunting atau cutter
D.
Langkah-langkah :
Instruksi
Peserta diminta
membuat sejumlah lubang (minimal 6) yang berjarak sama antara satu lubang
dengan lubang lainnya, juga jarak setiap lubang dari titik pusatnya.
Tahap 1
Mentor memberikan
instruksi di atas tanpa memberikan keterangan tambahan
Tahap 2
Mentor memberikan
instruksi dan keterangan tambahan secara lisan sbb:
1. Lipat kertas 2x sehingga membentuk bujursangkar
2. Lipat bagian kertas yang ujungnya bersatu sehingga menutupi 2/3
bagiannya
3. Lipat juga 1/3 bagiannya
4. Lipat lagi kertas dengan bagian yang sama sampai saling menutupi
5. Lubangi bagian yang ujungnya bersatu menggunakan gunting atau cutter
6. Lihat, apakah didapatkan lubang-lubang sesuai instruksi
E. Hikmah
1.
Pentingnya Rasul sebagai penyampai dan penjelas
risalah Islam sekaligus mencontohkan bagaimana Islam diterapkan dalam
keseharian
2.
Rasul sebagai utusan Allah harus kita kenal
dan kita taati agar segala aspek kehidupan kita menjadi ibadah
RINCIAN BAHASAN
Makna Risalah
dan Rasul
·
Risalah : sesuatu yang
diwahyukan Allah SWT berupa prinsip hidup, moral, ibadah, aqidah untuk mengatur
kehidupan manusia agar terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat
·
Rasul : Seorang
laki-laki (QS.21:7) yang diberi wahyu oleh Allah SWT yang berkewajiban untuk
melaksanakannya dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia
Pentingnya Iman Kepada Rasul
Iman kepada Rasul adalah salah satu
rukun iman. Seseorang tidak dianggap muslim dan mukmin kecuali ia beriman bahwa
Allah mengutus para rasul yang menyampaikan hakikat yang sebenarnya dari agama
Islam, yaitu Tauhidullah.
Juga tidak dianggap beriman atau
muslim kecuali ia beriman kepada seluruh rasul, dan tidak membedakan antara
satu dengan yang lainnya (QS.2:285).
Tugas Para Rasul
1.
Menyampaikan (tabligh) (QS.5:67, 33:39). Yang
disampaikan mereka berupa :
·
Ma’rifatullah (QS.6:102) (Mengenal
hakikat Allah)
·
Tauhidullah (QS.21:25)
(Mengesakan Allah)
·
Basyir wa Nadzir (QS.6:48) (Memberi kabar gembira dan peringatan)
2.
Mendidik dan membimbing (QS.62:2)
·
Memperbaiki jiwa dan membersihkan serta
meluruskan dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela (QS.62:2)
·
Meluruskan aqidah serta fiqrah yang
menyimpang dari Islam (QS.2:213)
·
Memimpin umat dengan
menjalankan metode Robbani (QS.38:26)
Sifat-Sifat Para Rasul
1.
Mereka adalah manusia (QS.17:93-94, 18:110)
·
Mereka memerlukan makan, minum (QS.25:20),
beristri (QS.13:38), ditimpa sakit
(QS.2:83-84)
2.
Ma’shum (terjaga dari kesalahan) (QS.3:161,
53:1-4)
·
Semua Rasul adalah ma’shum, tidak pernah
salah dalam menyampaikan risalah dari Allah. Yang dimaksud ma’shum di sini
adalah mereka tidak pernah meninggalkan kewajiban, tidak mengerjan hal-hal yang
haram, dan tidak berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam
(QS.3:161, 53:1-4)
3.
Sebagai suri tauladan (QS.33:21, 6:89-90)
¨
Teladan dalam kesabaran dan menanggung
penderitaan dalam memperjuangkan Islam (QS.6:34)
¨ Teladan
dalam ketabahan memegang prinsip
¨
Teladan dalam saling
mencintai dan persaudaraan muslim (QS.59:9)
¨
Teladan dalam setiap
akhlak mulia (QS.33;21, 68:4)
REFERENSI
Kelompok Studi
Al-Ummah, Aqidah Seorang Muslim, hal. 60-71
Al-Asyqor, Dr.
Umar Sulaiman, Para Rasul dan Risalahnya, Pustaka Mantiq
11.
AKHLAQ CERMIN KEPRIBADIAN
TUJUAN
Ø Peserta
tumbuh kesadarannya untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW
Ø Peserta
mengetahui contoh akhlak yang mulia
Ø Peserta
mengetahui contoh akhlak tercela
RINCIAN BAHASAN
·
Misi utama diutusnya Rasul ke dunia ialah
untuk menyempurnakan akhlak manusia. ”Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan keluhuran akhlak” (Hadits).
·
Akhlak Rasulullah mencakup segala sisi
kehidupan, yaitu sebagai suami, kepala pemerintahan, pemimpin tertinggi pasukan
Islam, dsb.
·
Rasulullah memiliki akhlak yang agung (QS.
68:4) dan patut dijadikan teladan oleh umat Islam (QS. 33:21).
Akhlak Rasulullah
secara Umum
1.
Akhlak qur’ani
·
Ditanyakan kepada Aisyah ra. tentang akhlak
Rasulullah SAW, maka jawabnya,”Akhlaknya Qur’ani” (Hadits)
·
Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an.Karena
itu, untuk memperoleh gambaran utuh akhlak beliau kita perlu memahami al-Qur’an
dan as-Sunnah atau segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pola kehidupan
Rasulullah.
2.
Akhlak manusia terbaik
·
“Dikatakan oleh Anas ra. bahwa Rasulullah
adalah manusia yang terbaik akhlaknya”.
·
Contoh akhlak-akhlak
mulia yang diperintahkan Nabi SAW
1.
Jujur
·
Hadits Rasul: “Sesungguhnya kejujuran itu
akan menghantarkan kepada kebajikan, dan sesungguhnya kebajikan itu akan
menghantarkan ke syurga. Dan seseorang senantiasa berkata benar dan jujur
hingga tercatat di sisi Allah sebagai orang yang benar dan jujur. Dan
sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, yang akhirnya akan mengantarkan ke
dalam neraka. Dan seseorang senantiasa berdusta
hingga di catat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR.Bukhari-Muslim)
2.
Dermawan (QS. 2:261)
·
“Tidaklah seseorang
hamba berada berada pada suatu pagi kecuali dua malaikat turun menemaninya.
Satu malaikat berkata: Ya Allah, berilah karunia-Mu, sebagai ganti apa yang ia
infakkan. Malaikat lainnya berkata: Ya Allah, berilah ia kebinasaan karena
telah mempertahankan hartanya yang tidak dinafkahkannya”. Muttafaq
‘alaih)
3.
Malu
·
“Adalah Rasulullah SAW sangat tinggi rasa
malunya, lebih pemalu dari gadis pingitan. Apabila Beliau tidak menyenangi
sesuatu, kami dapat mengetahuinya pada wajah Beliau.” (HR.Muslim),
“Iman itu mempunyai 71 atau 81 cabang dan yang paling utamanya adalah
mengucapkan Laa ilaaha illal-Lah dan serendah-rendahnya adalah meyingkirkan
duri (gangguan dari jalan).Dan sifat pemalu merupakan satu bagian dari iman” (Muttafaq
‘alaih).Tambahan: lihat Ar-Rasul, hal.197-199.
4. Menepati janji (QS. 5:1; 17:34). Tambahan: lihat Ar-Rasul, hal.56-60.
5.
Menutupi aib (QS. 24:19).
Contoh akhlak-akhlak
tercela yang diperingatkan RasulullahSAW
1.
Marah (QS. 3:133-134)
·
Dari Abi Hurairah ra. bahwa seorang laki-laki
berkata kepada Nabi SAW:”Wasiatilah aku.”Sabda nabi:”Janganlah engkau mudah
marah.Maka diulanginya beberapa kali.Sabdanya:Janganlah engkau mudah marah.” (HR.
Bukhari-Muslim)
2.
Ghibah dan Namimah (QS. 49:12)
3.
Riya (QS. 2:264)
4.
Sombong (QS. 17:37 )
5.
Zalim
·
“Hai hamba-hamba-Ku,sesungguhnya Aku telah
mengharamkan kezaliman (berbuat zalim) pada diri-Ku dan Aku jadikan sebagai
perbuatan haram bagi kalian, maka dari itu janganlah kalian berbuat zalim.” (HR.
Muslim)
DISKUSI
Bila ada temanmu yang
muslim membicarakan kejelekan teman muslim yang lain dihadapanmu, apa yang
seharusnya kamu lakukan?
REFERENSI
Abbas,S.Ziyad (ed.),Pilihan
Hadits Politik, Ekonomi dan sosial, Jakarta :
Pustaka Panjimas
Hasyimi, Dr. Muhammad
Ali, Apakah Anda Berkepribadian Muslim?,Jakarta : GIP
Hawwa, Sa’id, Ar-Rasul
Muhammad SAW, hal.177-199, Solo: Pustaka Mantiq
Yakan, Muna Hadad, Hati-hati
terhadap Media yang Merusak Anak, Jakarta :
GIP
Isnet, “Urgensi
Akhlak 1”
- INDAHNYA ISLAM
Tujuan
F
Peserta memahami makna
dari Ad-Dien dan Islam
F
Peserta mengerti dan
memahami karakteristik dasar Islam
Metode
Pendekatan
F Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
5’
|
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Rincian Bahasan
PENGERTIAN DIEN
Kalimat dien dalam bahasa Arab
memiliki beberapa pengertian, diantaranya :
1.
Kekuasaan. Sabda Rasulullah SAW “Orang yang pintar adalah orang yang
menguasai hawa nafsunya dan bekerja untuk hari setelah mati.”
2.
Tunduk (9:29 )
3.
Balasan (1:4)
4.
Undang-undang/Peraturan (12:76)
Ustadz
Sayyid Quthub berkata ketika beliau menafsirkan ayat 76 surat Yusuf, “Sesungguhnya nash ayat ini
memberi batasan yang sangat menditeil tentang makna dien, bahwa makna kalimat
“dienul malik” dalam ayat ini berarti peraturan dan syari’at malik (raja)”.
Lalu lanjutnya, Al-Qur’an mengungkapkan bahwa peraturan dan syari’at adalah dien,
maka barangsiapa yang berada pada peraturan dan syari’at Allah berarti ia
berada dalam dien Allah. Sebaliknya, barangsipa yang berada pada peraturan
seseorang dan undang-undang seorang raja berarti ia berada dalam dien raja
tersebut.” (Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, juz 4, halaman 2021)
PENGERTIAN ISLAM
Makna Islam menurut bahasa adalah :
1.
Tunduk dan menyerah (4:65)
2.
Keselamatan (5:16 )
3.
Damai (2:208)
Islam berarti tunduk dan menyerahkan diri
karena setiap muslim wajib tunduk dan patuh menyerahkan diri sepenuhnya kepada
ketentuan Allah SWT (4:65) dan berarti keselamatan dan damai. Sebab, orang yang
telah memeluk dien Islam dan mengerjakan tuntutannya akan selamat didunia dan
diakherat dan akan mendapatkan keselamatan/kedamaian sejati.
Sedangkan
menurut istilah, Islam adalah : tunduk dan menyerah kepada Allah baik lahir
maupun batin dengan melaksanakan perintahNya. Kemudian lafadz Islam digunakan
sebagai nama dari dien dan peraturan yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad
SAW, dan Allah menerangkan bahwa siapa yang mencari dien selain Islam tidak
akan diterima amal perbuatannya dan diakherat termasuk orang yang merugi
(3:85/13:10).
CIRI KHAS DIENUL ISLAM
1.
Robbaniyyah
Robbaniyyah sumbernya, maksudnya adalah bahwa Islam bersumber dari Allah
SWT bukan dari manusia (42:13).
Robbaniyyah tujuannya, maskudnya adalah tujuan pertama dan terakhir dien
Islam adalah agar manusia menyembah Allah. (51:56)
2.
Insaniyah ‘Alamiyah (kemanusian & Universal)
Yang dimaksud dengan kemanusiaan yang universal adalah bahwa dien Islam
Diturunkan sebagai petunjuk untuk seluruh manusia bukan khusus suatu kaum atau
golongan (21:107/34:28/7:158).
3.
Syamil (Lengkap dan mencakup)
Yang
dimaksud syamil adalah bahwa hukum dan ajaran Islam mencakup seluruh aspek
kehidupan. Tidak ada suatu pekerjaan, baik yang kecil maupun yang besar
sekalipun, kecuali Islam telah menerangkan hukumnya (6:38 /16:89)
4. Al Basathoh (mudah)
Yang dimaksud
mudah adalah bahwa ajaran Islam mudah untuk dikerjakan, tak ada kesulitan
sedikitpun, sebab Islam tidak membebankan manusia suatu kewajiban kecuali
sebatas kemampuannya (22:78/5:6/2:286)
5. Al’Adalah (keadilan yang mutlak)
Maksudnya, tujuan
dien Islam adalah menegakkan keadilan mutlak dan mewujudkan persaudaraan dan
persamaan ditengah kehidupan manusia serta memelihara darah, kehormatan, harta,
akal dan dien mereka (5:8/6:152/4:135)
6. Tawazun (keseimbangan)
Yaitu Dien Islam
dan seluruh ajarannya menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadai dan
kepentingan umum, antara jasad dan ruh, antara dunia dan akherat (28:77). Maka
kita lihat diantara ajaran Islam adalah “Apabila maslahat pribadi berbenturan
dengan kepentingan umum maka yang didahulukan kepentingan umum”. Oleh sebab
itu, Islam mengharamkan riba dan membolehkan jual beli (2:275)
Dalam hal
keseimbangan antara kebutuhan ruhaniyyah dan jasadiyah, Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya badanmu memiliki hak atasmu, jiwamu memiliki hak atasmu dan
keluargamu juga memiliki hak atasmu, maka berikanlah setiap yang punya hak-haknya.”
7. Perpaduan antara tasbat (tidak berubah) dan murunah
(menerima perubahan)
Diantara ciri
khas dien Islam adalah perpaduan antara tsabat dan murunah. Tsabat pada
pokok-pokok dan tujuannya, murunah pada cabang, sarana dan cara-caranya
sehingga dengan sifat murunahnya dien Islam dapat menyesuaikan diri dan dapat
menghadapi perkembangan zaman serta sesuai dengan segala keadaan yang baru
timbul. Dan dengan sifat tsabat pada pokok-pokok dan tujuannya Islam tidak
dapat larut dan tunduk terhadap persoalan zaman dan perputaran waktu.
Refrensi
1 Al Islam, Sa’id Hawwa.
1 Pengantar
Kajian Dinul Islam, Yusuf Qorodhowy
1 Kharakteristik
Dinul Islam, Yusuf Qorodhowy
13. ISLAM PASTI MENANG (ISLAM SOLUSI PERMASALAHAN)
Tujuan
F
Peserta memahami
aspek-aspek keyakinan seorang muslim terhadap Islam
F
Peserta memahami hal-hal
yang membatalkan keislaman seseorang
F
Peserta memahami
perbandingan Islam dengan sistem nilai kehidupan yang lain
Metode
Pendekatan
F Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
5’
|
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Rincian
Bahasan
Beberapa
Aspek Keyakinan Seseorang Muslim Terhadap Islam
1.
Islam adalah wahyu Allah (42:13)
2.
Islam adalah dienul haq (61:9/9:33 )
3.
Islam adalah dien yang lurus (12:40 /30:30)
4.
Islam adalah dien yang bersih (39:3)
· Bersih
dari syirik (13:36 )
·
Bersih dari kesalahan
dan kekurangan (4:82)
· Bersih
dari campur tangan manusia dan hawa nafsu
5.
Islam adalah satu-satunya dien (3:19 ) dan Allah tidak akan menerima
dien selain Islam (3:85)
Yang
Membatalkan Keislaman Seseorang
Faktor-faktor
yang membatalkan Islam diantaranya :
1.
Seluruh bentuk syirik (4:116)
2.
Barangsiapa yang mengambil perantara antara
dia dengan Allah kemudian menyerunya dan meminta kepadanya syarat maka ia kafir
menurut ijma ulama/fuqoha (10:18 )
3.
Siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang
musyrik atau ragu dengan kekafirannya atau membenarkan madzabnya maka ia kafir
menurut ijma’.
4.
Barangsiapa berkayakinan bahwa petunjuk
selain Nabi SAW lebih sempurna dari petunjuknya (Nabi) atau hukum selain Nabi
lebih baik hukumnya sebagaimana mereka yang mengutamakan hukum-hukum thogut
atas hukum Allah maka ia kafir menurut ijma’ (5:44 ,45,47,50)
5.
Siapa membenci sesuatu dari ajaran yang
dibawa Nabi SAW walaupun ia mengajarkannya ia kafir menurut ijma’ (47:9)
6.
Siapa yang mencemoohkan ajaran dienullah atau
mengejek pahala dan siksa maka ia kafir menurut ijma’ (9:65)
7.
Sihir (2:102)
8. Memberi pertolongan kepada kaum musyrik untuk menerangi orang Islam (5:51)
9. Berkayakinan bahwa ada sebagian manusia yang tidak diwajibkan mengikuti
Nabi SAW maka ia kafir menurut ijma’.
10. Berpaling dari dienullah (Islam), tidak mau belajar dan tidak mau
mengamalkannya (32:22)
Perbandingan
Dienul Islam Dengan Jahiliyah
Dienul Islam
|
Dien Jahiliyah
|
1. Dari
Allah SWT (42:13)
2. Allah
adalah Pencipta (40:62)
3. Yang
maha mengetahui kebutuhan dan kemashlahatan hambanya (67:14/
4. Yang
Maha Bijaksana (
5. Setiap
yang datang dariNya adalah kebenaran yang mutlak yang tidak boleh diragukan
(3:60/2:147/10:94/13:1)
6. Otomatis
dien Islam dien yang haq, yang tidak boleh diragukan lagi (61:9/9:3)
7. Diemul
haq inilah yang mengantarkan manusia kepada hidayah (
|
1. Produk selain Allah (buatan manusia)
2. Selain
Allah adalah makhluk
3. Manusia
itu bodoh/tidak mengetahui (33:72)
4. Untuk menentukan sesuatu selalu berdasarkan sangkaan dan rekaan belaka
(6:148,116/10:66/43:20)
5. Maka kebanyakan yang datang dari manusia adalah bathil (53:28/10:36)
6. Otomatis undang-undang yang dibuat manusia adalah undang-undang batil
(22:62/31:30)
7. Undang-undang yang batil akan mengantarkan manusia kepada kesesatan
(10:32,35)
|
Refrensi
1 Al Islam, Sa’id Hawwa.
1 Pengantar
Kajian Dinul Islam, Yusuf Qorodhowy
1 Karakteristik
Dinul Islam, Yusuf Qorodhowy
Tujuan
F Peserta
mengetahui salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Mua’dz bin Jabal.
F
Peserta mengetahui karakteristik akhlaq dan
dakwah Mua’dz bin Jabal.
F
Peserta dapat mengambil hikmah dan mencontoh
kelebihan akhlaq Mua’dz bin Jabal.
Metode
Pendekatan
F Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
Mentor
meminta salah seorang peserta untuk membaca QS. 2:1-10.
|
5’
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Rincian Bahasan
"Apa
yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu ?" tanya Rasulullah saw.
"Kitabullah", jawabnya. "Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam
Kitabullah ?",
tanya Rasulullah saw." Saya putus dengan
Sunnah Rasul", jawabnya lagi.
"Jika
tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah ?" tanya Rasulullah saw.
"Saya
pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia".
Itulah
cuplikan dialog antara Rasulullah saw dan seorang sahabat muda yang mempunyai
wajah yang amat berseri dan gigi yang putih berkilat. Seorang tokoh dari
golongan Anshor yang termasuk dalam Assabiqunal Awwalun (golongan pertama yang
masuk Islam). Seorang sahabat yang Rasulullah SAW utus pergi ke Yaman untuk
mengajarkan penduduk Yaman tentang seluk-beluk agama Islam dan menyelesaikan
permasalahan kaum Muslimin disana. Seorang yang terkenal berani mengemukakan
pendapatnya seperti halnya sahabat Umar bin Khathab.
Siapakah
gerangan sahabat muda tersebut ?
Pada suatu
hari di awal pemerintahan Umar bin Khathab, A'idzullah bin Abdillah masuk ke
sebuah masjid bersama dengan beberapa orang sahabat lainnya. Maka duduklah ia
pada sebuah majelis yang dihadiri lebih dari 30 orang. Masing-masing dari
mereka menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah saw. Dalam
majelis itu duduk pula seorang pemuda yang tampan wajahnya, hitam manis warna
kulitnya, bersih dan manis tutur katanya dan ... dialah yang termuda diantara
mereka. Jika ada suatu keraguan pada mereka, maka mereka tanyakan pada anak
muda tersebut. Dan si pemuda tidak hendak berbicara kecuali bila diminta.
Didorong
oleh rasa kagumnya, saat majelis berakhir A'idzullah mendekati anak muda
tersebut dan bertanya, "Siapakah namamu hai anak muda ?" "Saya
adalah Mu'adz bin Jabbal", ujarnya. Ialah Mu'adz bin Jabbal, seorang
sahabat Rasulullah saw yang dikenal sangat dalam ilmunya. Pantaslah jika suatu
kali Rasulullah saw pernah memujinya dengan sabdanya : "Umatku yang paling
tahu akan yang halal dan yang haram ialam Mu'adz bin Jabbal".
Namun
demikian, kedalaman ilmu dan pujian Rasulullah saw tersebut tidak pernah
menjadikannya sombong dan berbangga. Hal ini tercermin dari sikapnya yang lebih
mengutamakan diam dalam majelis yang dihadiri oleh para sahabat Rasulullah saw.
Ia tak hendak bicara sebelum diminta. Namun jika para sahabat menemui keraguan
tentang sesuatu ... maka tidak lain, Mu'adz lah tempat mereka bertanya.
Rasulullah
saw dan para sahabat sangat sayang kepada Mu'adz. Suatu hari Rasulullah saw
pernah bersabda : "Hai Mu'adz ! Demi Allah saya sungguh sayang kepadamu.
Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan : Ya Allah, bantulah daku
untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada Mu ..."
Adakah
yang lebih membahagiakan selain ungkapan rasa sayang dari Rasulullah saw ?
Saat Umar
bin Khathab menjabat sebagai Khalifah, Mu'adz pun menyertainya. Khalifah Umar
banyak meminta pendapat dan buah fikirannya dan memanfaatkan keahliannya dalam
bidang hukum. Sampai pada suatu hari Umar pernah berkata, "Kalau tidaklah
berkat Mu'adz bin Jabbal, akan celakalah Umar !".
Sebelum
menghembuskan nafasnya yang terakhir, Khalifah Umar pernah ditanya oleh para
sahabat, "Bagaimana jika anda tetapkan pengganti anda ?"
"Seandainya Mu'adz bin Jabbal masih hidup, tentu saya angkat ia sebagai
khalifah, dan kemudian bila saya menghadap Allah azza wa Jalla dan ditanya
tentang pengangkatannya, saya akan menjawab : Saya angkat Mu'adz bin Jabal
setelah mendengar Nabi bersabda : "Mu'adz bin Jabal adalah pemimpin
golongan ulama di hari kiamat ..."
Saat
menjelang ajalnya Mu'adz bermunajat kepada Allah swt dan berkata, "Ya
Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada Mu, tetapi hari ini aku
mengharapkan Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia
demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan ... tatapi hanyalah
untuk menutup haus di kal panas dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta
untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan ..."
Dan Mu'adz
bin Jabal pun mengulurkan tangannya lalu pergi menghadap kekasihnya dalam usia
33 tahun. Kenangan para sahabat tidak pernah hilang terhadap Mu'adz. Mu'adz
telah menyerahkan seluruh jiwa raga dan nasibnya kepada Allah swt, hingga tidak
suatu pun yang tampak olehnya ... kecuali Allah swt. Ibnu Mas'ud menggambarkan
kepribadian Mu'adz, katanya "Mu'adz adalah seorang hamba yang tunduk
kepada Allah dan berpegang teguh kepada agama Nya. Dan kami menganggap Mu'adz
serupa dengan nabi Ibrahim as ...".
Mu'adz
senantiasa menyeru manusia untuk mencapai ilmu dan berdzikir kepada Allah swt.
Diserunya mereka untuk mencari ilmu yang benar lagi bermanfaat, katanya
"Waspadalah akan tergelincirnya orang yang berilmu ! Dan kenalilah
kebenaran itu dengan kebenaran pula, karena kebenaran itu mempunyai cahaya
...!"
Pada suatu
pagi Rasulullah saw bertemu dengan Mu'adz dan bertanya, "Bagaimana
keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu'adz?"
"Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya
Rasulullah", ujar Mu'adz "Setiap kebenaran ada hakikatnya", ujar
Nabi pula, "Maka apakah hakikat keimananmu?" "Setiap berada di
pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada
di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi ... Dan tiada
satu langkah pun yang ku langkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi
lagi dengan langkah lainnya ... Dan seolah-olah kusaksikan setiap umat jatuh
berlutut, dipanggil melihat buku catatannya ... Dan seolah-olah kusaksikan
penduduk surga menikmati kesenangan surga ... Sedangkan penduduk neraka
menderita siksa dalam neraka ..." Maka sabda Rasulullah saw, "Memang,
kamu mengetahuinya (tentang hakikat keimanan). Maka pegang teguhlah, jangan
dilepaskan".
Mu'adz bin
Jabal, sahabat yang amat disayang oleh Rasulullah saw. Kedalaman ilmunya
bagaikan lautan lepas yang tak habis digali dengan kepergiannya. Tutur katanya
adalah mutiara hikmah yang patut dijadikan nasehat bagi semua orang yang ingin
memahami hakikat Islam dan keimanan.
Mu'adz bin
Jabal ... mudah-mudahan Allah swt menerima segala amal ibadahnya.
Hikmah :
F Ilmu
sebagai cahaya yang akan menerangi kehidupan manusia baik di dunia maupun di
akherat.
F Mu’adz
adalah contoh nyata pemuda yang menghabiskan masa mudanya untuk menggali ilmu
sehingga mendapat julukan “Cendekiawan Sepanjang Masa
F Menjadikan
Al Qur’an dan Hadits sebagai rujukan untuk pengambilan semua keputusan dalam
hidup.
Refrensi
1 Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat
Rasulullah, Khalid Muhammad Khalid,
CV. Diponegoro.
- PROBLEMATIKA UMMAT
PENGANTAR
Materi
ini menjelaskan masalah-masalah pokok yang terjadi dalam tubuh umat Islam serta
menguraikan
secara
singkat solusi umum dari permasalahan tersebut.
TUJUAN
1.
Peserta mampu melihat berbagai fenomena permasalahan umat yang terdapat di
sekitarnya.
2.
Peserta memahami masalah-masalah mendasar yang terjadi dalam tubuh umat Islam.
3.
Peserta memahami langkah-langkah mendasar yang harus dilakukan sebagai solusi
atas
permasalahan tersebut.
POKOK
BAHASAN
1.
Fenomena-fenomena permasalahan umat
2.
Faktor-faktor mendasar penyebab permasalahan umat
3.
Solusi atas permasalahan umat
WAKTU
: 75 menit efektif
METODE
: Penjelasan diselingi dengan diskusi interaktif
PROSES
1.
Berikan penjelasan tentang fenomena-fenomena permasalahan umat saat ini, umat
Islam mengalami kemunduran yang sangat dahsyat dalam berbagai bidang kehidupan.
Kemiskinan,
kebodohan, ketertinggalan ilmu pengetahuan, dan berbagai predikat lainnya
sangat
lekat
dalam kehidupan umat. Berbagai fenomena permasalahan umat dapat dilihat bahkan
di sekitar kita.
2.
Minta peserta untuk menyebutkan semua fenomena permasalahan umat yang terjadi
di sekitarnya,tuliskan di papan.
3.
Berikan penjelasan tentang faktor-faktor mendasar penyebab permasalahan umat
Fenomena permasalahan umat tersebut bukanlah kejadian-kejadian yang saling
lepas, melainkan berakar dari beberapa faktor penyebab yang paling mendasar. Menurut Al-Qur’an dan sunnah,faktor-faktor tersebut
adalah :
a. Umat Islam zholim dari Al-Qur’an dan sunnah.
Sebagian besar umat Islam saat ini tidak menjadikan
Al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya. Al-Qur'an tidak dibaca dan tidak dijadikan
rujukan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya,berbagai kerusakan dan
kemunduran terjadi dalam tubuh umat tanpa bisa dibendung. “Berkata Rasul : Ya
Rabb, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang ditinggalkan”
(QS 25:30). Ibnu Taimiyyah menjelaskan tentang ‘meninggalkan Al-Qur'an’ pada
ayat tersebut sbb : “Barangsiapa tidak membaca Al-Qur'an, sungguh ia telah
meninggalkannya. Barangsiapa membaca Al-Qur'an tapi tidak mentadabburinya,
sungguh ia telah meninggalkannya. Barangsiapa membaca dan mentadabburi
Al-Qur'an tapi tidak mengamalkannya, sungguh ia telah meninggalkannya.”
Saat ini, sangat sedikit di antara umat Islam yang
membaca Al-Qur'an dan konsisten membacanya. Di antara yang membacanya, sangat
sedikit yang konsisten mentadabburinya.
Dan dari yang sedikit itu, sangat sedikit pula yang
mengamalkannya. Kebanyakan umat jahil dari Al-Qur'an, bahkan berpaling kepada
berbagai ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
b. Umat Islam terkena penyakit wahn.
Rasulullah bersabda : “Kelak akan datang suatu masa di
mana umat-umat lain akan mengelilingi
kamu seperti orang yang lapar mengelilingi makanan di
atas meja.” Sahabat bertanya : “Apakah.
jumlah kami ketika itu sedikit ya Rasul?” Jawab Rasul :
“Tidak, jumlah kamu ketika itu banyak.
Akan tetapi kamu terkena penyakit wahn.” Sahabat bertanya
: “Apakah wahn itu ya Rasul?”
Jawab Rasul : “Yaitu cinta dunia dan takut mati.”
Akibat dari penyakit wahn ini, semangat untuk berjuang di
jalan Allah sangat lemah, perjuangan untuk agama dianggap sesuatu yang sia
-sia. Fenomena orang yang terkena wahn, lihat QS
9:38-41 (cinta dunia) dan 4:77-78 (takut mati).
c. Tidak ada ukhuwah kecuali sedikit.
Kepedulian terhadap sesama umat Islam sangat kecil. Umat
di satu negeri hampir-hampir tidak mempedulikan keadaan saudaranya di negeri
lain. Umat terkena pula penyakit ananiyah (egois).
Baginya, keselamatan diri dan keluarga yang penting,
orang lain belakangan. Padahal Rasulullah bersabda : “Tidak beriman salah
seorang kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri.”
Akibatnya, umat menjadi sangat lemah. Musuh-musuh Islam
dengan mudah menjajah dan
menindas umat Islam, karena umat Islam di berbagai negeri
hampir tidak saling peduli atau
menolong bila sebagian ditimpa kesulitan.
d. Invasi pemikiran
Kekalahan beruntun pasukan kaum kafir dalam perang salib
memberikan pelajaran kepada
mereka untuk mencari strategi lain yang lebih jitu untuk
memerangi kaum muslimin. Karena
itu, kaum kafir saat ini menyerang kaum muslimin dari
sisi aqidah dan akhlaq. Setelah rusak
aqidah dan akhlaqnya, mudahlah bagi kaum kafir untuk
mengendalikan kaum muslimin. Target akhir dari invasi pemikiran adalah agar
kaum muslimin memberikan loyalitasnya kepada kaum kafir.
Berikan salah satu contoh kasus invasi pemikiran,
tunjukkan letak invasi pemikiran-nya.
4.
Diskusikan dengan peserta solusi dari permasalahan di atas. Arahkan agar
peserta memahami bahwa solusi permasalahan tersebut harus dimulai dengan
memperbaiki diri sendiri. Arahkan agar peserta termotivasi untuk :
a. Kembali kepada Al-Qur'an dan sunnah sebagai
pedoman hidup dengan membaca,
mentadabburi, dan mengamalkannya.
b.
Membersihkan diri dari penyakit wahn dengan menanamkan niat yang kuat
untuk berjuang di
jalan Allah.
c. Memperkuat ukhuwah Islamiyah mulai dari
lingkungan yang kecil.
d. Mempelajari konsep-konsep Islam agar
terhindar dari invasi pemikiran.
- GHOZWUL FIKRI –
JAHILIYAH ABAD 21
PENGANTAR
Materi ini menjelaskan pengertian, latar
belakang dan strategi yang digunakan kaum kafir dalam
melancarkan invasi pemikiran.
TUJUAN
1. Peserta memahami latar belakang timbulnya
invasi pemikiran.
2. Peserta memahami tujuan dan strategi yang
digunakan kaum kafir dalam melancarkan invasi
pemikiran.
3.Peserta memahami cara menghadapi invasi
pemikiran.
POKOK BAHASAN
1. Latar belakang invasi pemikiran
2. Tujuan invasi pemikiran
3. Sarana-sarana invasi pemikiran
4. Cara menghadapi invasi pemikiran.Silabus
Materi Mentoring 46
WAKTU : 75 menit efektif
METODE : Penjelasan diselingi dengan diskusi interaktif
PROSES
1. Berikan penjelasan tentang latar belakang
invasi pemikiran
Kekalahan beruntun pasukan Nasrani dari pasukan Islam
pada perang salib membuat mereka berpikir tentang letak kekuatan umat Islam.
Berbagai upaya dilakukan untuk mempelajari umat Islam, sampai akhirnya
disimpulkan bahwa kekuatan umat Islam (masa itu) terletak pada aqidah dan
akhlaq, serta kedekatan dan ketaatan umat Islam pada Al-Qur'an dan sunnah.
Mereka juga menyimpulkan bahwa untuk mengalahkan umat Islam, maka umat harus
terlebih dahulu dipisahkan dari Al-Qur'an sambil merusak aqidah dan akhlaq
mereka. Bila aqidah dan akhlaqnya telah rusak, maka umat tidak akan memiliki
kekuatan sehingga mudah untuk dikalahkan.
2. Jelaskan bahwa tujuan invasi pemikiran
adalah :
a. Merusak akhlaq b. Meracuni pemikiran
c. Merusak kepribadian d. Memurtadkan
Tujuan akhirnya adalah agar kaum muslimin memberikan loyalitas mereka
kepada orang - orang kafir.
3. Berikan penjelasan tentang sarana-sarana
invasi pemikiran
Invasi pemikiran disebarkan dengan menggunakan banyak
sarana, di antaranya adalah :
a. Media massa
b. Lembaga pendidikan
c. Hiburan
d. Klub/perkumpulan
e. Olahraga
f. LSM/yayasan
Mentor harap menjelaskan secara singkat bagaimana
sarana-sarana tersebut digunakan untuk menyebarkan invasi pemikiran. Minta juga
peserta untuk menyebutkan kasus-kasus invasi pemikiran yang diketahuinya.
Jelaskan bahwa penyebar invasi pemikiran meliputi seluruh
komponen di luar orang yang beriman, yaitu Yahudi dan Nasrani (QS 2:120),
komunis, orang-orang musyrik dan orang-orang munafiq.
4. Diskusikan dengan peserta bagaimana cara
menghindari serangan invasi pemikiran tersebut.
Arahkan agar peserta memahami bahwa invasi pemikiran
dapat dihindari dengan memperkuat aqidah, meningkatkan ibadah dan memperindah
akhlaq (QS 3:69). Beri motivasi peserta untuk beramar ma’ruf nahi munkar di
lingkungan masing-masing, termasuk di sekolah (QS 3:110).
REFERENSI : Abdul
Marzuq Shabrur, Invasi Pemikiran
- ELEGI 2 CINTA
Tujuan
Peserta mampu menjelaskan makna dan hakikat cinta
Peserta memahami tanda-tanda cinta
Metode Pendekatan
Ceramah dan diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka
pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
5’
|
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor
menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Rincian Bahasan
Cinta berasal
dari kata al mahabbah yang berarti
kasih sayang. Menurut Abdullah Nasih Ulwan cinta adalah perasaan jiwa dan
gejolak hati yang mendorong seseorang mencintai kekasihnya dengan penuh gairah,
lembut, dan kasih sayang.
Tanda-tanda cinta
: kagum/simpati, berharap, takut, rela, dan selalu ingat. Semua tanda-tanda
cinta tersebut selayaknya diberikan kepada Allah dalam rangka mencintai-Nya.
·
Kagum terhadap kebesaran
dan kekuasaan Allah QS 59:24
·
Mengharap kepada Allah QS 39:53
·
Rela dan menerima ketentuan Allah sepenuhnya
·
Selalu mengingat Allah QS 13:28; 63:9; 59:19;
2:152
·
Takut kepada Allah
Semua kepada Allah
harus ditumbuhkan dan dibuktikan dalam ketaatan kepada-Nya. Sebab cinta akan
tumbuh dari ketaatan dan kepatutan kepada kehendak dan aturan-Nya QS 24:51; 3:31
Prioritas dalam cinta
QS 9:24
Prioritas
tertinggi, cinta kepada Allah, Rosulullah dan jihad di jalan-Nya QS 3:31 -32; 58:22; hadits 1
Prioritas
menengah, cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami, dan kerabat QS
31:14; hadits Prioritas terendah, cinta yang lebih mengutamakan dan
menomorsatukan cinta keluarga, kerabat, harta, dan tempat tinggal dibandingkan
terhadap Allah, Rosulullah, dan jihad fi sabilillah. Hadits 3
Catatan :
Hadits 1 :
Tidaklah sempurna seseorang dari kalian
hingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri (HR Bukhori dan Muslim)
Hadits 2 :
Semua makhluk adalah tanggung jawab
Allah. Maka yang paling dicintai Allah adalah yang paling memperhatikan
kehidupan keluarganya (HR Thabrani dan Baihaqi)
Hadits 3 :
Tidaklah sempurna iman salah seorang dari
kalian sehingga ia lebih mencintai aku daripada hartanya, anaknya, dan manusia
seluruhnya (HR Bukhori dan Muslim)
Referensi :
Manajemen Cinta,
Abdullah Nashih Ulwan
- BINA DIRI DENGAN ISLAM
Tujuan
v Peserta memahami makna dan
hakikat pendidikan Islam
v Peserta memahami sebab-sebab
pentingnya pendidikan Islam
v
Peserta
termotivasi untuk mengetahui pendidikan Islam
Metode Pendekatan
Ceramah dan diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka
pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
Mentor
meminta salah seorang peserta untuk membaca QS. 3 : 79
|
5’
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor
menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Rincian Bahasan
Makna dan hakikat pendidikan
Islam :
Dalam bahasa arab pendidikan
Islam disebut at tarbiyah al islamiyah.
Secara bahasa, tarbiyah memiliki
beberapa arti :
- Roba
– yarbu = tumbuh berkembang
-
Robiya – yarba = tumbuh secara alami
-
Robba – yarubbu = memperbaiki, meningkatkan
Berarti proses
pendidikan Islam seharusnya menumbuhkembangkan secara alami, juga sebagai
proses perbaikan peningkatan diri bagi orang yang terlibat didalamnya.
Pendidikan Islam bukan hal yang mengada-ada, dia memang ada.
Secara istilah makna tarbiyah adalah :
1.
Menyampaikan sesuatu sampai pada tingkat
sempurna sedikit demi sedikit ( al
baydowi)
2.
Menumbuhkan sesuatu sedikit demi sedikit
sampai dengan tahap sempurna ( al
asmahadi )
Mengapa pendidikan
Islam diperlukan ?
Melihat kondisi umat
Islam yang :
- Umat Islam tidak memahami Islam itu sendiri
- Akibatnya umat terjebak dalam kondisi kebodohan, kelemahan, dan kehinaan
-
Umat Islam berada dalam kerusakan
Penyebabnya :
1. Kecintaan
kepada dunia yang berlebihan dan takut mati
2. Saling
berpecah belah
3. Mengkotak-kotakan
ajaran Islam
4. Meninggalkan
jihad
Hakikat
jiwa manusia :
v Memiliki
kecenderungan untuk berbuat futur (dosa)
v Terbuka untuk menerima hidayah (petunjuk)
Solusi : melihat kondisi umat saat ini serta
memperhatikan hakikat jiwa manusia maka dibutuhkan sebuah pendidikan Islam bagi
umat Islam. Pendidikan
Islam (tarbiyah islamiyah) tersebut
harus bersifat :
-
Kontinu (mustamiroh)
-
Membentuk syahsiyah Islamiyah bukan sekedar
transfer ilmu (takwiniyah)
-
Bertahap/terprogram (mutadarrijah)
-
Menyeluruh tidak parsial (kaaffah)
Referensi :
Abu
Ridho, Tarbiyah Islamiyah
- BERSIH HATINYA
Tujuan
F Peserta
memahami hakikat taqwa dan balasan bagi bagi
orang-orang bertaqwa
F
Peserta mengetahui jalan
mencapai sifat taqwa
Metode
Pendekatan
v Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka
pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
Mentor meminta salah seorang peserta untuk membaca
Jumuah : 2
|
5’
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor
menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
Rincian
Bahasan :
Hakikat taqwa :
Merupakan konsekwensi logis dari keimanan
yang kokoh yang dipupuk dengan muraqobatullah, merasa takut terhadap murka dan
adzab-Nya dan selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfiroh-Nya
Taqwa :
Hendaklah Allah tidak melihat kamu berada
dalam larangan-larangan-Nya dan tidak kehilangan kamu di dalam
perintah-perintah-Nya
Taqwa :
Mencegah diri dari adzab Allah dengan
berbuat amal sholeh dan takut kepada-Nya di kala sepi ataupun terang-terangan
Taqwa :
Hendaklah kamu berbuat dengan taat kepada Allah, berada diatas cahaya dari
Allah, mengharap pahala Allah, meninggalkan kedurhakaan kepada Allah
berdasarkan cahayaNya dan takut kepada siksaNya
Balasan Bagi Orang-Orang Yang Bertaqwa
þ Diberikan furqon dan diampuni dosanya (QS 8:29)
þ Diberikan
rahmat dan cahaya hidayah dari Allah (QS 57:28)
þ Diberikan jalan keluar dan rizki
dari arah yang tidak disangka-sangka (QS 65:2-3)
þ Dimudahkan oleh Allah segala urusan (QS 65:4)
þ Ditutupi kesalahan –kesalahan dan akan dilipatgandakan pahala baginya oleh
Allah (QS 65:5)
þ Mendapatkan berkah dari Allah (QS 7:96)
Jalan Menuju Taqwa
1. Mu’ahadah (mengingat perjanjian) (QS
16:91)
Caranya : Hendaklah seorang mukmin berkholwat (menyendiri) untuk
mengintrospeksi diri. Hanya antara dia dengan Allah. Ingatlah bahwa setiap hari
kita berjanji dengan Allah minimal 17 kali dalam sholat. “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”
2. Muroqabatullah (merasakan kesertaan
Allah) (QS 26:218-219)
Makna : merasakan keagungan Allah disetiap waktu dan keadaan serta
merasakan kebersamaannya di kala sepi ataupun ramai.
Cara : Sebelum melakukan sesuatu
pekerjaan dan disaat mengerjakannya, hendaklah seorang mukmin memeriksa dirinya
: apakah setiap gerak dalam melaksanakan amal dan ketaatannya dimaksudkan untuk
kepentingan pribadi dan mencari popularitas atau karena dorongan ridho Allah
dan menghendaki pahalaNya ?
Macam-macam
Muroqabatullah :
· Muroqabatullah
dalam melaksanakan ketaatan : Ikhlas
· Muroqabatullah
dalam kemaksiatan : taubat, penyesalan dan meninggalkannya
· Muroqabatullah
dalam hal yang mubah : menjaga adab-adab terhadap Allah dan bersyukur atas
nikmat-Nya
· Muroqabatullah
dalam musibah : ridho kepada ketentuan Allah serta memohon pertolongannya
dengan penuh kesabaran
3. Muhasabah (Introspeksi Diri) (QS 59:18)
Cara :
Hendaklah seorang mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan perbuatan :
apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan ridho Allah ? atau apakah amalnya
dirembesi sifat riya’ ? apakah ia sudah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak
manusia ?
1.
Mu’aqobah (
Pemberian sanksi) (QS 2:179)
Tujuan :
jika seorang muslim berbuat kesalahan maka tak pantas untuk membiarkannya,
sebab akan mempermudah terlanggarnya kesalahan yang lain dan akan sulit
meninggalkannya. Karena jika seseorang melakukan maksiat biasanya akan
diikuti oleh maksiat yang lain (lihat. Perkataan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)
Syarat : sanksi harus dengan sesuatu yang mubah tidak boleh dengan yang
harom atau mencelakakan (QS 2: 195 ; 4: 29)
2.
Mujahadah (Optimalisasi)
(QS 29:69)
Caranya : apabila
seorang mukmin terseret dalam kemalasan, sampai cinta dunia dan tidak lagi
melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya;
maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari
sebelumnya.
Hal-hal yang harus diperhatikan :
·
Hendaklah amal-amal yang
sunnah tidak membuatnya lupa akan kewajiban yang lainnya.
·
Tidak memaksakan diri
dengan amal-amal sunnah yang diluar kemampuannya.
Catatan :
Perkataan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah : Pada
dasarnya manusia yang sudah terperangkap dalam kemaksiatan akan merasa sulit
untuk keluar dan melepaskan diri darinya. Sebagaiman yang diucapkan oleh
ulama salaf : “Diantara dampak negatif
maksiat adalah menimbulkan maksiat yang lain. Sedangkan pengaruh kebaikan
adalah mendatangkan kebaikan berikutnya. Maka jika seorang hamba melakukan
suatu kebaikan, kebaikan yang lainnya akan meminta untuk dilakukan, begitu
seterusnya hingga hamba tersebut memperoleh keuntungan yang berlipat ganda dan
kebaikan yang tiada sedikit. Begitu pula halnya dengan maksiat. Dengan
demikian, ketaatan dan kemaksiatan merupakan sifat yang kokoh dan kuat serta
menjadi kebiasaan yang teguh pada diri si pelaku.”
Referensi :
1. Dr. Abdullah
Nasih Ulwan, Tarbiyah Ruhiyah : Petunjuk
Praktis Mencapai Derajat Taqwa.
2. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, Akibat Berbuat Maksiat.
- AYO BERDAKWAH
Tujuan
F
Peserta memahami potensi
generasi muda sebagai asset umat Islam
F
Peserta mengetahui dan
memahami bagaimana mereka bisa berperan
Metode
Pendekatan
v Games
v Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka
pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
5’
|
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor
menyimpulkan materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
PENDAHULUAN
Islam
memandang usia muda sebagai usia yang mengandung nilai sangat khusus, seperti
yang Rasulullah SAW ungkapkan :
“Gunakanlah
lima kesempatan
sebelum datangnya yang lima
(uzur), yakni : masa mudamu sebelum tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu,
kekayaanmu sebelum dating miskinmu atau fakir, masa hidupmu sebekum matimu,
waktu luangmu sebelum kesibukanmu” (Hadits Ibnu Abbas RA. Riwayat Al Hakim).
Dari hadits
ini bisa kita lihat bahwa Islam ingin generasi mudanya pandai menggunakan
kesempatan dan waktu yang dimilikinya untuk meraih cita-cita yang diidamkan.
Kesia-siaan dan ketidakteraturan waktu adalah sesuatu yang tidak dikehendaki
oleh Islam. Rasulullah bersabda :“Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata : Rasulullah
SAW. Bersabda :
“Ada
dua nikmat dimana manusia banyak tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan
kesempatan” (HR. Bukhari dikutip dari Riyadhush Shalihin karya Imam Nawawi).
Kecenderungan
hidup santai dan bereha-leha adalah satu bentuk aktivitas pemuda yang tidak
memahami nilai waktu. Penyakit ini seringkali menghinggapi pemuda. Padahal,
apabila seseorang sudah tidak bisa lagi menghargai nilai waktu, ia tidak akan
mempu menata dan mengatur waktu sesuai dengan tugas-tugas yang menjadi tanggung
jawabnnya. Segala bentuk tanggung jawabnya akan terbengkali cita-cita yang
sudah dirancang menjadi angan-angan belaka.
Kita
memang tidak bisa memungkiri bahwa kuatnya jerat ghozwul fikri yang dilancarkan
oleh musuh-musuh Islam menjadi salah satu factor lalainya pemuda. Namun,
apabila hal ini diimbangi dengan ketahanan dan kekuatan iman yang kokoh niscaya
pemuda akan mampu tampil sebagaimana sosok mukmin yang ideal. Ia akan mampu
mengolah potensi jasmani, akal, dan jiwanya sehingga berkembang maksimal
membentuk pribadi yang kokoh, tangguh penuh semangat, dan mampu menopang
kebangkitan umat.
Masa
muda hendaknya dimanfaatkanb untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat, sebab
kesempatan itu hanya dating sekali dalam rentang waktu kehidupan manusia dunia.
Tenaga yang masih segar ditambah dengan semangat yang menyala merupakan modal
utama untuk mengejar kesempatan emas menyongsong masa depan melalui ilmu
pengetahuan. Pada saat usia semakin menua,
kesempatan itu tak banyak diharapkan. Oleh karena itu, gunakanlah usia muda
untuk menunaikan kewajiban membela agama Allah dengan sebaik-baiknya.
Apabila hidup kita diabdikan guna
kepentingan agama, niscaya Allah akan senantiasa melindungi dan memayungi gerak
langkah kita.
“….Jika kamu menolong (Agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”
(QS. Muhammad : 7).
Rasulullah SAW
bersabda :
“Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam melindungiNya pada hari yang
tidak ada perlindungan selain perlindungannya…(satu diantaranya ialah) pemuda
yang sejak kecil selalu beribadah kepada Allah” (HR. Syaikhoni).
Kisah para
sahabat yang ternyata mereka berjuang di jalan Allah SWT muali usia muda : Umar
bin Khatab , 27 tth . zaid bin Haritsah , 20 tahun , Sa’ad bin abi Waqqash, 17
tahun, Ali bin Abu tahlib, 8 tahun.
Bekal yang harus dimiliki pemuda muslim :
-
Aqidah yang Kuat dan
Selamat (Salimul Aqidah) : 2:197
-
Ibadah yang Baik dan
Benar (Shahihul Ibadah)
-
Akhlaq yang luhur
(Matinul Khuluq)
-
Kematangan Intelektual (Mutsaqoful Fikr)
-
Ketrampilan skill yang mumpuni (munadhomaan
fi syu’unihi
-
Dll
Peran Pemuda Islam
v Generasi
Penerus (2:132-133,al Furqon:74)
v Generasi
Pengganti (al Maidah :4)
v Generasi
pembaharu (Maryam :42)
Referensi :
-
ad Daulah, Ali Salim. Pemuda Islam di Seputar Persoalan yang
menghadangnya , Risalah Gusti
-
al Bana, Hasan . Abdullah Nashih Ulwan, Pemuda Militan
-
al Hilali, Majdi , 38
Generasi Unggulan. GIP, Jakarta
-
Fathi Yakan, Komitmen Muslim Kepada Harakah
Islamiyah
- YANG MENIMANG YANG
DISAYANG
TUJUAN
1. Peserta memahami kewajiban berbakti kepada
orang tua
2. Peserta meneladani para sahabat dalam
berbakti kepada orang tua
METODE : Ceramah
WAKTU : 60 menit efektif
PROSES
1.
Jelaskan kewajiban menghormati orang tua.
a.
Adalah perintah Allah SWT (17:23-24, 2:83, 4:36, 29:8).
b.
Ibu yang telah begitu bersusah payah mengandung (31:14, 46:15).
c.
Kedua orang tua yang begitu banyak berkorban tiada banding membesarkan anaknya
2.
Jelaskan bagaimana seharusnya akhlaq terhadap orang tua.
Tafsir surat Al Isra 23-24 :
a. Bahwa
ajaran yang pertama harus tertanam adalah ajaran tauhid, sedangkan
kewajiban birrul walidain adalah
perintah sesudahnya
b. Pada
kenyataannya anak yang telah mandiri seringkali lalai dalam memperhatikan kedua
orang tuanya, sedangkan tidak pantas bagi seorang anak untuk merasa bosan
sedikitpun ataupun merasa jengkel saat memelihara orang tua. Bayangkanlah
bagaimana perasaan orang tua yang sedari kita kecil mereka memelihara kita
sampai menjadi manusia yang berarti, kemudian setelah anaknya besar dan mereka
berangsur tua anaknya malah menyia -nyiakan dan tidak bersabar memeliharanya.
c. Seorang sahabat Anshor pernah bertanya
kepada Rasulullah SAW, ”Masih adakah lagi
kewajibanku
yang wajib aku buktikan kepada orang tuaku setelah beliau meninggal?”Rasulullah
menjawab, ”Memang masih ada kewajibanmu 4 macam:
1.
Doakan keduanya, 2. Mohonkan ampun kepada Allah untuk keduanya, 3. Laksanakan
pesan-pesan /kebiasaan keduanya, 4. Muliakan sahabat-sahabat keduanya;
silaturahmi yang tidak terhubungkan kepada engkau, melainkan dari pihak
keduanya. Itulah yang tinggal untuk engkau sebagai bakti kepada keduanya
setelah mereka meninggal. ”
d. Kita diajarkan
untuk mendoakan orang selagi hidup dan sesudah meninggalnya karena dalam hadist
disebutkan hubungan yang masih ada diantara orang yang telah wafat dengan orang
yang masih hidup hanyalah tinggal tiga perkara yaitu amal jariyyah, ilmu yang
bermanfaat, dan doa anak yang shaleh.
3.
Jelaskan arti berbakti dan hak-hak orang tua.
a.
Apabila ia menghajati makanan, maka hendaklah dipenuhi
b.
Apabila ia menghajati pakaian, hendaklah diberikan
c.
Apabila ia memanggil maka hendaklah menyahut dan datang
d.
Apabila ia berhajat kepada penghidmatan, maka laksanakan
e.
Apabila ia menyuruh hendaklah ditaati selama tidak membawa durhaka kepada Allah
f.
Melemah-lembutkan suara saat berbicara dengan keduanya
g.
Memanggil dengan panggilan yang menyenangkan keduanya
h.
Berjalan di belakangnya.Lembaga Pengembangan Potensi Insani (LP2I) Bandung 37
i.
Menyukai untuk keduanya apa yang kita sukai apabila sesuai dengan syariat Islam
j.
Memohon ampunan pada Allah setiap memohon ampunan terhadap diri sendiri
4.
Jelaskan keutamaan berbakti kepada orang tua
a.
Amalan yang disukai Allah dan bernilai jihad
b.
Dapat memanjangkan umur dan rezeki serta harta yang berkah
c.
Pahala yang diperoleh menyamai haji dan umrah
d.
Memperoleh kenikmatan surga
e. Memberikan pendidikan kepada anak-anak dan membuat
mereka berbakti pula pada orang tuanya
f.
Jaminan masuk surga
g.
Menghilangkan gundah dan gelisah
h.
Meraih ridha Allah
5. Diskusikan
dengan peserta kasus-kasus yang sering terjadi belakangan ini menyangkut
hubungan anak dan orang tua, seperti anak yang tidak menghormati orang tua,
bayi yang dibuang oleh orang tuanya, dll.
- UKHUWAH ISLAMIYAH
TUJUAN
1. Peserta memahami makna dan rukun ukhuwah
Islamiyah.
2. Peserta memahami cara memelihara ukhuwah
Islamiyah dalam kehidupannya.
METODE : Ceramah dan diskusi
WAKTU : 60 menit efektif
PROSES
1.
Berikan penjelasan tentang makna ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah tidak akan
membuahkan sifat ta'awun (saling
menolong) dan keterikatan antara yang satu dengan yang lainnya kecuali bila
dilandasi karena Allah dan mengharap ridha-Nya semata (43:67). Menurut Hasan
Al-Banna ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain
dengan ikatan aqidah.
2. Berikan penjelasan tentang rukun ukhuwah
Islamiyah.
(1) Ta'aruf (perkenalan jasad, jiwa, dan sifat)
(2) Ta-alluf (kesatuan hati) dan tafahum (saling
memahami)
(3) Tanashuh (saling menasehati)
(4) Ta'awun (saling menolong)
(5) Takaful (merasa senasib)
(6) Itsar (mendahulukan saudara)
3.
Berikan penjelasan tentang hal-hal yang harus dipelihara untuk
memelihara ukhuwah Islamiyah (terangkan
secukupnya).
(1) Memberitahukan kecintaan kepada saudaranya (sesama
muslim, kecuali kepada lawan jenis)
(2) Memohon didoakan bila hendak berpisah
(3) Saat berjumpa menampakkan wajah yang ramah dan
diiringi senyum kegembiraan
(4) Berjabat tangan saat berjumpa (kecuali bukan muhrim)
(5)
Saling mengunjungi sesama saudara muslim (silaturahim)
(6)
Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
(7)
Memberi hadiah pada waktu-waktu tertentu
(8)
Saling memahami dan merasa senasib sepenanggungan
(9)
Memenuhi hak-hak ukhuwah saudaranya
(10)
Memanjatkan doa untuknya tanpa sepengetahuannya
4.
Gali dan diskusikan dengan peserta masalah-masalah, kasus-kasus, atau
hal lain yang berhubungan dengan penerapan ukhuwah Islamiyah (misalnya : kerja
sama waktu ulangan, apakah itu termasukukhuwah?)
5.
Berikan penjelasan tentang manfaat ukhuwah Islamiyah (pengayaan).
(1) Di wajah mereka kelihatan bercahaya
(2) Pada hari
kiamat berada di bawah naungan 'arsy Allah (termasuk 7 golongan yang dilindungi
Allah)
(3) Berada dalam surga Allah dan mendapat
keridhaan-Nya (15:46-48)
(4) Merasakan manisnya iman
- KISAH PERANG BADAR
Tujuan
1.
Peserta memahami pentingnya sirah (sejarah) kehidupan Rasulullah dan
para sahabat
2.
Peserta mampu mengkisahkan peran badar dan
mengambil hikmah darinya.
3.
Peserta memahami pentingnya sirah (sejarah) kehidupan Rasulullah dan
para sahabat
4.
Peserta mampu mengkisahkan perang badar dan
mengambil hikmah darinya.
Metode
Pendekatan
v Ceramah
dan Diskusi
Alokasi Waktu
Langkah
|
Uraian
|
Waktu
|
Pembukaan
|
Mentor membuka
pertemuan dan menerangkan tujuan materi
|
5’
|
Tilawah
|
Mentor
meminta salah seorang peserta untuk membaca 2: 120
|
5’
|
Ceramah
|
35’
|
|
Diskusi
|
10’
|
|
Penutup
|
Mentor menyimpulkan
materi dan menutupnya dengan do’a
|
5’
|
RINCIAN MATERI
PERANG
BADAR
(Jum’at,17 Ramadhan 2 H / Januari 624 M)
Prolog :
Perang Badar merupakan bentuk
perlawanan fisik pertama kali yang dilakukan oleh Rasulullah berserta para
sahabat. Peristiwa ini bersamaan terjadinya dengan disyariatkannya perintah
puasa Ramadhan yaitu pada tahun kedua hijriyah.
Suatu hari Rasululullah SAW
memperoleh informasi bahwa kafilah dagang Quraisy sebanyak 30 orang, 1000 ekor
unta, dengan muatan senilai 50.000 dinar tengah berjalan menuju Syam. Kafilah
itu dikepalai Abu Sufyan Bin Harb.
Setelah mendapat berita tersebut,
Rasulullah SAW berangkat ke luar Madinah bersama sebagian kecil sahabat untuk
berjaga-jaga, agar mereka tidak mengganggu kaum muslimin di Madinah. Sebab
Musyrikin Quraisy sering merusak kebun-kebun, dan merampas ternak milik
penduduk Madinah. Tetapi sesampainya Rasulullah SAW bersama pasukan muslimin di
tempat tujuan, kafilah quraisy itu ternyata sudah berlalu.
Selang beberapa waktu kemudian Rasulullah SAW menerima kabar lagi bahwa
kafilah Quraisy tadi sedang bersiap-siap akan kembali ke Makkah. Sebelumnya
terdengar kabar pula mengenai dirampasnya harta-harta kaum muslimin yang
ditinggal di kota mekkah, hal ini membuat sebagian para sahabat dengan
dipelopori oleh Paman Nabi Hamzah mengajukan izin kepada Rasulullah untuk
membalas perlakuan orang kafir Quraisy tersebut. Kemudian turun ayat 39-40
Surah Al Hajj yang membeirkan ijin kepada kaum muslimin untuk berperang jika
mereka didzolimi.Rasulullah SAW dan para sahabat kembali bersiaga untuk
mengambil hak mereka yang terampas dari kafilah dagang Abu Sufyan. Dengan
pasukan yang teridiri dari 313 orang dan
2 ekor unta, mereka menuju suatu tempat dekat Shafra’ kemudian berhenti di
situ. Rasulullah SAW lalu mengirim 2 orang sahabat untuk menyelidiki kabar
tentang kafilah dagang tersebut.
Abu Sufyan akahirnya mengetahui bahwa pasukan kaum muslimin telah bersiaga
di luar Madinah, lalu ia mengirim kurir ke Mekkah minta bantuan pasukan
tambahan. Menjawab permintaan itu, Quraisy memberangkatkan pasukan yang terdiri
1000 orang dengan dukungan 700 ekor unta.
Ketika rombongan musyrikin Quraisy sedang dalam perjalanan, sampailah kabar
bahwa kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan telah selamat tiba di Mekkah
dengan mengambil jalan dekat pantai. Dan Abu Sufyan
meminta agar pasukan Quraisy untuk kemabli saja. Namun Abu Jahal -komandan pasukan- menolak. Dia berkeras untuk terus ke
Badr. Kemudian Abu Jahal memerintahkan pasukannya untuk mendirikan kemah-kemah
sambil menyombongkan diri menantang kaum muslimin, sambil bernyanyi-nyani dan
mabuk-mabukan.
Sementara itu, perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabat sampailah di
lembah Dzafiran. Di sana Rasulullah
SAW mendapat laporan tentang selamatnya kafilah Abu Sufyan di Makkah, dan juga
laporan mengenai tantangan pasukan musyrikin pimpinan Abu Jahal. Menghadapi
siatuasi genting ini beliau lalu
bermusyawarah dengan para sahabat. Beberapa pendapat dari sahabat ketika itu
menghendaki agar kaum muslimin kembali saja ke Madinah, “sebab tujuan kita ke
sini hanya untuk menghadang kafilah dagang, bukan untuk berperang!’, demikian
alasan mereka. Air muka Rasulullah SAW kelihatan muram, berbeda pendapat dalam
situasi yang sulit tersebut.
Tiba-tiba berdirilah Miqdad bin
Al-Aswad ra. Dan berkata : “Ya Rasulullah, teruskanlah pada hal apa yang
Allah perintahkan pada tuan. Maka kami menyertai tuan. Demi Allah, kami tidak
akan berkata kepada tuan seperti perkataan bani Israil kepada nabi Musa ;
“Pergilah engkau bersama Tuhanmu, maka berperanglah engkau berdua, kami
sesungguhnya akan duduk termenung di sini saja.” Akan tetapi, kami berkata
kepada tuan : “Pergilah tuan bersama Tuhan Tuan, dan berperanglah tuan bersama
Tuhan tuan! Kami sesungguhnya beserta
tuan berjalan dengan kami sampai ke barkhul Ghamad, niscaya kami berjuang
bersama tuan. Kami akan berperang dari sebelah kiri dan kanan tuan, dan dari
antara hadapan tuan dan belakang tuan”. Demikian pula ucapan Sa’ad bin Muadz
dari golongan anshor, menguatkan pendapat Miqdad tadi. Akhirnya diputuskan
untuk bertempur dengan musuh. Maka berangkatlah pasukan muslimin ke Badr,
sesuai kesepakatan tersebut.
Jalannya Perang :
Rasulullah SAW dan tentara muslimin
terus berjalan sampai ke suatu lembah. Namun lembah
tersebut jauh dari tempat air, penuh pasir lagi kering. Sehingga banyak para
sahabat kehausan dan sukar bersuci dari hadats. Maka berdoa’lah Rasulullah, dan
kemudian Allah turunkan hujan yang sangat lebat.
Setibanya di Badr, Rasulullah
dan pasukan muslimin lalu menuju ke wadi (tempat air) Badr. Beliau menunggu
kedatangan tentara musyrikin di situ. Seorang sahabat yang bernama Hubbab bin Al-Mundzir mengusulkan agar
mereka pindah ke lokasi yang dekat dengan mata air, agar mereka tidak
kekurangan air selama peperangan berlangsung. Sebaliknya, pasukan musyrikinlah
yang akan kekurangan air nanti. Pendapat Hubbab ini dibenarkan oleh malaikat
Jibril, sehingga Rasulullahpun menerimanya. Mereka menduduki sebelah utara dari
lembah Badr yang luas, membelakangi jalur ke Syam. Kota Madinah ada di kiri
mereka. Ats usul Sa’ad bin Muadz ra., para sahabat membuatkan ‘arsy (semacam alal duduk) dari pelepah
kurma untuk Rasulullah SAW. Selanjutnya pasukan muslimin membuat kolam-kolam
air dan mendirikan kemah.
Kemudian nampaklah oleh mereka
pasukan musyrikin di kejauhan menuju lembah Badr. Jumlah mereka amat banyak,
membuat mereka sombong. Rasulullah SAW berdo’a dengan khusyu’, memohon
pertolongan Allah. Lalu beliau keluar dari Arsy, dan bersabda : “Akan
dikalahkan pasukan itu, dan mereka akan membalik ke belakang.”
Pasukan musyrikin mengambil
posisi di sebalah Selatan lembah Badr, berhadapan langsung dengan pasukan
muslimin. Jalur menuju Mekkah tepat di belakang mereka. Daerah yang mereka
duduki, tidak teduh sebagaimana daerah yang dijadikan basis oleh pasukan
muslimin.
Pasukan musyrikin terbagi dalam empat kelompok. Dua kelompok pasukan
berkuda, yang masing-masing mengambil posisi di sayap kanan dan kiri pasukan,
sementara dua kelompok pasukan berjalan, berada di tengah-tengah.
Sebelum pertempuran sesungguhnya
dimulai, diadakanlah adu tanding satu lawan satu. Quraisy mengajukan ketiga
jagonya : ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah
bin Rabi’ah, dan Walid bin ‘Utbah. Pada mulanya Rasulullah memerintahkan
tiga orang sahabat Anshor untuk melayani tantangan itu. tetapi Quraisy
menghendaki untuk berhadapan dengan muhajirin. Maka Rasulullah memerintahkan Hamzah bin Abdul Mutholib, Ali bin Abi
Thalib, dan Ubaidah bin Harits melayani musyrikin yang sombong itu.
Dalam pertempuran satu lawan
satu itu, Hamzah dapat membunuh Syibah, Ali dapat membunuh Walid, sedangkan
Ubaidah dipukul dengan pedang oleh Utbah di lututnya sampai hampir putus.
Hamzah dan Ali segera menggotong Ubaidah ke hadapan Rasulullah. Kemudian Ali
ra. Kembali ke medan pertempuran dan bertanding melawan Utbah, sampai akhirnya
Utbah dapat dibunuhnya.
Sementara itu Ubaidah bin harits
ra. Dibaringkan di tikar Rasulullah SAW. Dalam keadaan terluka parah itu
Ubaidah bertanya kepada Rasulullah : “Tidakkah ini syahid, ya Rasulullah?” Maka
Rasulullah menjawab : “Sesungguhnya saya menyaksikan bahwa engkau syahid.”
Setelah itu, Ubaidahpun menghembuskan nafasnya yang terakhir sambil tersenyum
puas.
Selesai tanding satu lawan satu
itu, maka kedua pasukan bersiaga. Rasulullah memerintahkan pasukan muslimin
untuk berdiri dalam shaf yang rapat dan lurus. Quraisy segera mengerahkan
pasukan berkudanya untuk menggempur pasukan muslimin. Gemuruh derap pasukan
berkuda musyrikin itu sedikitpun tidak menggentarkan hati kaum muslimin. Mereka
tetap tegak berdiri di posisi masing-masing sesuai perintah Rasulullah,
menangkis gelombang demi gelombang serangan yang datang. Debupun memenuhi udara
di sela bayang-bayang sabetan pedang dan tikaman tombak-tombak, suara dentingan
dua pedang yang beradu bercampur dengan ringikan kuda yang terluka. Satu
persatu tubuh-tubuh kaum musyrikin rebah, tanpa kepala atau lengan.
Maka bingunglah kaum musyrikin
yang pongah itu, baru pertama kalinya mereka saksikan, bahwa pasukan berkuda
(kaveleri) dapat dilumpuhkan oleh pasukan berjalan (artileri). Selanjutnya,
Pertempuran yang seru semakin berkobar. Rasulullah memberikan komando pada
pasukannya untuk maju menyerbu. Dengan penuh semangat jihad, tanpa mengenal
rasa takut, para mujahidin itu maju menggempur musuh dengan kekuatan mereka
yang jauh lebih besar. Kesyahidanlah yang mereka cari.
Akhirnya porak porandalah
pasukan musyrikin itu. Abu Jahal, dan tokoh-tokoh Quraisy yang lain tewas. Yang
masih hidup segera berbalik ke belakang, melarikan diri, kembali ke Makkah.
Dalam ghazwah badr ini, pasukan muslimin yang syahid ada 14 orang .Sedangkan
tentara musyrikin yang tewas adalah sebanyak 70 orang. Kaum muslimin juga
memperoleh rampasan perang yang besar tawanan-tawanan.
Ketika menangani para tawanan
perang ini sempat terjadi perbedaan pendapat diantara para sahabat. Kemudian
disepakati bagi mereka yang bisa mengajar membaca dan menulis 10 orang muslim
maka akan di bebaskan.
Referensi :
- Siroh Nabawiyah, Dr. Ramadhan al Buthy
- Siroh Nabawiyah, Dr. Ramadhan al Buthy
I.
ADAB MAJELIS
Harus dipahami bahwa kegiatan ini
merupakan majelis islami yang didalamnya ada dzikir dan fikir (QS : 3 : 191),
oleh sebab itu adab majelis sebagaimana yang dianjurkan oleh rasullah harus
diperhatikan sebb :
• Pertemuan
dibuka dengan membaca basmalah secara jama'i (bersama-sama)
•
Seianjut tiiawah AI-Qur'an secara tadarus muiai dari instruktur hingga
semua peserta melaksanakannya
•
Jika dibacakan al-Qur'an, maka dengarkan dan simaklah (QS : 7 : 204)
•
Bacalah Idzti'azah (mohon perlindungan) sebeium membaca AI-Qur'an (QS :
16 : 98)
•
Hendaklah berinfaq atau shadaqah untuk keperluan dakwah/kelompok sebeium
memulai pertemuan (QS : 58 : 12)
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) ãLäêøyf»tR tAqß§9$#
(#qãBÏds)sù tû÷üt/ ôyt óOä31uqøgwU Zps%y|¹ 4
y7Ï9ºs
×öyz ö/ä3©9 ãygôÛr&ur
4
bÎ*sù óO©9
(#rßÅgrB ¨bÎ*sù ©!$#
Öqàÿxî
îLìÏm§
ÇÊËÈ
Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan
pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada
orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan
lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) Maka
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
• Jangan
membicarakan kemungkaran (QS : 58 : 9)
$pkr'¯»t úïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) ÷Läêøyf»uZs?
xsù
(#öqyf»oYoKs?
ÉOøOM}$$Î/
Èbºurôãèø9$#ur ÏMuÅÁ÷ètBur ÉAqß§9$#
(#öqyf»uZs?ur
ÎhÉ9ø9$$Î/ 3uqø)G9$#ur
(
(#qà)¨?$#ur ©!$#
üÏ%©!$# Ïmøs9Î) tbrç|³øtéB ÇÒÈ
Hai orang-orang beriman,
apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu
mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang
demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh
(yang akan disedekahkan) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
• Berlapang dada dalam majelis (QS: 58 :11)
•
Meminta izin bila ingin
meniggalkan majelis pertemuan (QS : 24 : 62)
•
Jika ada yang memanggil dari luar, hendaklah ia menuggu dulu (QS ; 49 :
4-5)
•
Jangan memperdebatkan isi AI-Qur'an (QS : 40 : 35-36)
• Diskusikanlah AI-Qur'an dengan baik dan penuh hikmah (QS: 16 :125)
• Jika berselisih pendapat, hendaklah dikembalikan kepada AI-Qur'an dan
Hadits (QS : 25 : 73)
• Pertemuan ditutup dengan membaca hamdalah, istighfar dan kifarat
(penutup) majelis , " Subhanakailahumma wa bihamdika Asy-hadu alia
ilahailla anta, astaghfiruka wa'atubuh iiaik" (HR At-Tirmidzi, hadits
hasan shahih)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar